Selasa, 27 Oktober 2009

HAMBATAN DALAM BELAJAR

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Belajar adalah kebutuhan dasar bagi seorang manusia. Seorang manusia yang baik, tentunya akan selalu belajar setiap saat. Tetapi sayangnya, belajar bagi sebagian dari kita adalah sesuatu hal yang berat. Pada makalah ini akan dijelaskan beberapa hal yang menyebabkan belajar menjadi sesuatu yang berat. Belajar yang dimaksud dalam makalah ini adalah belajar untuk kepentingan akademik, walaupun beberapa alasan berkaitan dengan alasan umum mengenai keengganan belajar.
Banyak hal yang dapat menghambat belajar, sehingga terkesan belajar adalah sesuatu yang berat dan belajar adalah hal yang tidak menyenangkan, atau bahkan merasa tertekan ketika harus belajar. Apa sebenarnya yang membuat belajar menjadi momok bagi sebagian orang? Bukankah seharusnya belajar adalah sesuatu yang menyenangkan? Bagaimana agar belajar menjadi suatu kebutuhan dan merasa nyaman dengan belajar?
Banyak hal yang bisa kita gali dari pertanyaan, hambatan-hambatan apa saja yang menyebabkan belajar menjadi momok bagi sebagain orang? Alasan apa yang mengakibatkan belajar adalah suatu hal yang berat? Ketika dihadapkan dengan pertanyaan ini, akan timbul beberapa ide, yang sebenarnya alasan mengapa kita enggan belajar.
Oleh karena itu, diperlukan suatu referensi yang bisa dijadikan sebagai bahan bacaan yang mungkin dapat digunakan untuk mengetahui apa yang menyebabkan belajar jadi terasa berat. Dalam makalah ini kami akan menjelaskan beberapa hambatan umum dalam belajar bagi sebagian orang
.
1.2 Rumusan Masalah
Dalam makalah ini, kami mencoba merumuskan masalah apa yang menjadi pokok pembahasannya dan masalah apa yang mungkin berhubungan dengan pokok permasalahan. Masalah-masalah yang mungkin berkaitan tersebut adalah:
a. Apa pengertian dari belajar itu sendiri?
b. Hal apa saja yang bisa menghambat proses belajar?
c. Apa solusi yang dinilai cukup efektif untuk masalah tersebut?

1.3 Tujuan Penulisan
Merujuk pada masalah yang akan dibahas, tujuan dari pembuatan makalah ini diantaranya:
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetaui apa yang dimaksud dengan belajar dan hambatannya serta solusi dari masalah tersebut.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui pengertian dari belajar secara umum dan belajar di dunia akademik.
b. Menyelidiki apa yang menjadi hambatan dari proses belajar, baik hambatan internal maupun hambatan eksternal.
c. Mempelajari metode yang tepat untuk meminimalisasi masalah dalam belajar.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Belajar
Belajar pada dasarnya merupakan proses suatu aktivitas yang menghasilkan perubahan tingkah laku baik berupa pengetahuan, keterampilan maupun sikap pada diri manusia akibat dari latihan, penyesuaian maupun pengalaman. Perubahan tingkah laku siswa di sekolah, mahasiswa dikampus, bahkan peserta pelatihan dan workshop sekalipun nampak dalam beberapa kegiatan, seperti membaca, merangkum, bertanya dan berlatih, mengerjakan tugas–tugas dan aktivitas lainnya. Dimana dalam pelaksanaannya belajar tersebut tidak sebatas oleh ruangan dan waktu. Sebab belajar juga dapat dilaksanakan diluar sekolah pada waktu yang tidak ditetapkan secara formal.
Ernest R. Hilgart dalam buku S Nasution, mengemukakan bahwa : “Learning is the process by which an activity originates or is changed trough training procedure (whether in laboratory on in the natural environtment) as distinguished from changes by factors not attributable to training,” definisi belajar diatas mempunyai arti bahwa seseorang dikatakan belajar, apabila melakukan langkah-langkah perubahan tingkah laku, baik ditempat-tempat umum maupun di lingkungan sekitarnya yang mengakibatkan si pelakunya mendapatkan pengetahuan, keterampilan maupun perubahan sikap kearah yang lebih baik. Selanjutnya Harold Albert yang dikutip S. Nasution (1982:46) menegaskan bahwa “learning is an active process which involes dynamic interaction learner and his environment”. Batasan ini berarti bahwa belajar adalah suatu proses yang aktif dimana terjadi interaksi antara individu dengan lingkungannya. Lingkungan yang dimaksud adalah segala hal yang mempengaruhi atau mendukung terhadap perubahan pengetahuan, keterampilan dan sikap siswa.
Pertumbuhan atau perubahan yang terjadi pada diri, adalah tingkah laku yang baru yang diperoleh setelah membaca, mendengar, mengamati, menganalisa, merangkum, berlatih dan sebagainya. Tingkah laku tersebut misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pengertian baru, perubahan dalam sikap, kebiasaan, keterampilan, perkembangan sikap sosial, emosional dan pertumbuhan jasmani.
Perubahan tingkah laku pada seseorang yang merupakan hasil belajar terdiri dari 3 bagian, yaitu :
a. Domain Kognitif, meliputi kemampuan intelektual, pengetahuan.
b. Domain Efektif, meliputi perubahan sikap, perasaan apresiasi cara penyesuaian diri.
c. Domain Psikomotor, meliputi kemampuan motoris/keterampilan.
Perubahan belajar itu bersifat kompleks, karena merupakan suatu proses yang dipengaruhi atau ditentukan oleh banyak faktor yang meliputi berbagai aspek baik yang bersumber dari luar manusia. Perubahan hasil belajar diharapkan adalah perubahan yang positif, sebab perubahan tersebut berbentuk prestasi.
Secara umum dapat kita katakan bahwa perubahan yang terjadi pada diri seseorang itu tidak asal berubah, melainkan perubahan itu harus memiliki manfaat bagi orang itu sendiri.
Dengan pengkajian beberapa pengertian tentang belajar tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Belajar pada dasarnya merupakan hasil interaksi individu dengan lingkungannya.
2. Belajar itu merupakan perubahan tingkah laku berdasarkan praktek atau pengalaman tertentu
3. Perubahan hasil belajar ini positif, dalam arti sesuai dengan yang diharapkan (normatif) atau kriteria keberhasilan, baik dipandang dari segi individu orang tersebut maupun dari segi lingkungannya.
4. Perubahan itu konstan, dalam arti perubahan yang terjadi pada orang tersebut bersifat tetap dan merupakan hasil usaha dan bertawakal kepada Tuhan yang Maha Kuasa.
5. Perubahan itu pada pokoknya adalah karena didapatnya pengetahuan baru.

2.2 Hambatan dalam Belajar
Hambatan belajar yang mengakibatkan belajar adalah sesuatu yang berat boleh jadi berasal dari diri si pembelajar, hambatan ini kemudian disebut sebagai hambatan internal. Dan boleh jadi, hambatan belajar yang mengakibatkan belajar adalah sesuatu yang berat berasal dari lingkungan tempat si pembelelajar atau dari luar diri si pembelajar, hal ini kemudian disebut sebagai hambatan eksternal.
2.2.1 Hambatan Internal, diantaranya:
a. Kondisi psikologis dari si pembelajar. Saat belajar, seharusnya si pembelajar berada dalam keadaan yang rileks dan siap menerima materi pelajaran. Kondisi ini diibaratkan sebuah gelas kosong siap diisi air. Gelas kosong tersebut tentunya dalam keadaan tidak terbalik. Jika gelas kosong dalam keadaan terbalik, maka air yang dikucurkan tidak pernah akan masuk ke dalam gelas. Kondisi gelas yang benar diibaratkan konsidi psikologis si pembelajar yang siap belajar, siap menerima kucuran ilmu. Sedangkan kondisi gelas yang terbalik itu diibaratkan kondisi ketika si pembelajar tidak siap belajar, dan si pembelajar tersebut tidak akan mendapatkan ilmu ketika mendapat tekanan ataupun paksaan dalam belajar.
b. Tingkat kejenuhan belajar. Ketika seseorang dalam keadaan jenuh, orang tersebut akan sangat sulit untuk mencapai kondisi konsentrasi, artinya tidak ada kerjasama yang baik antara indra yang terlibat dalam belajar dengan otak.









Gambar 1 Tampak seorang pembelajar mengalami kejenuhan dalam belajar.

c. Subjek yang dipelajari tidak disenangi oleh si pembelajar. Ketika seseorang hendak mempelajari sesuatu, maka perasaan senang dululah yang terlebih dahulu dia munculkan terhadap subjek yang akan dipelajari. Ketika muncul rasa tidak senang dalam diri orang tersebut untuk mempelajari sesuatu, maka secara tidak sadar dia telah menggerakkan otaknya untuk menolak segala sesuatu yang berkaitan dengan subjek yang akan dipelajari.
d. Si pembelajar tidak mengetahui apa manfaat dari yang sedang dipelajari. Setelah seseorang menyenangi suatu pelajaran, maka tidak berhenti disitu saja. Jika orang tersebut berpatokan ketika dia menyenangi suatu pelajaran, maka orang tersebut tidak akan merasa kesulitan dalam belajar. Setelah dia menyenanginya, dia harus mencari tahu apa manfaat mempelajari suatu materi pelajaran untuk dirinya.
e. Tingkat Intelektualitas si pembelajar. Faktor ini sebenarnya tidak mutlak menjadi hambat belajar. Semua manusia dilahirkan dengan membawa sebuah senjata berfikir yang sangat dahsyat, otak. Tingkat intelektualitas bisa ditingkatkan dengan berbagai macam cara. Tinggal niatnya saja. Satu hal yang harus di ingat, bahwa dengan latihan yang rajin, maka hambatan yang satu ini dapat dengan mudah untuk dienyahkan.
2.2.2 Hambatan Eksternal, diantaranya:
a. Faktor lingkungan si pembelajar, berupa lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah. Karakter si pembelajar akan dibentuk oleh lingkungan, bukan oleh faktor genetis. Walaupun berperan, faktor genetis persentasenya cukup kecil untuk membentuk karakter si pembelajar.
b. Metode pengajaran dari pembimbing ataupun dari dosen. Kekurangmampuan seorang pembimbing mentransferkan ilmu yang dimilikinya kepada anak didiknya juga dapat menghambat proses pelajaran. Mentransferkan ilmu yang di maksud adalah kemampuan pembimbing tersebut membuat anak didiknya menjadi paham terhadap subjek yang sedang dipelajari.
c. Tidak tersedianya bahan (materi) maupun sarana dan prasarana yang memadai. Bahan atau materi yang akan dipelajari mutlak harus tersedia. Bahan atau materi bisa didapatkan dari berbagai sumber, misalnya buku, media masa, halaman web ataupun dari pakar yang berkompeten dalam subjek yang akan dipelajari.









Gambar 2 Tampak sarana dan prasarana yang tidak memadai

d. Tingkat kesulitan subjek yang dipelajari. Tingkat kesukaran subjek yang dipelajari ternyata adalah hal relatif. Maksudnya, jika menurut si pembelajar hal itu adalah sesuatu yang sulit, rumit, memusingkan, maka menurut temannya adalah sesuatu yang mudah dan sederhana.
e. Faktor ekonomi. Banyak saudara kita yang terhimpit beban ekonomi yang kian mencekik, dengan terpaksa mengorbankan belajar untuk membantu orang tua. Banyak kita saksikan, mereka yang kekurangan dalam hal ekonomi mempunyai semangat belajar yang sangat tinggi. Ini seharusnya menjadi pelajaran bagi yang hidup berkecukupan. Jangan sia-siakan setiap kesempatan belajar yang ada.

2.3 Solusi dari Masalah dalam Belajar
Untuk mengatasi masalah yang mungkin ditemukan dalam belajar, sekiranya ada beberapa solusi yang dinilai cukup efektif untuk mengatasi masalah tersebut. Beberapa solusi tersebut diantaranya:
a. Seseorang harus dibiasakan untuk belajar secara aktif, membudayakan bersikap kritis, berani bertanya dan mampu membangun kerjasama dengan orang lain. Oleh karena itu model dan strategi pembelajaran harus dipilih yang dinilai cukup baik untuk menciptakan keadaan tersebut.
b. Si pembelajar harus bisa tetap konsentrasi terhadap apa yang dipelajari dan untuk bisa tetap konsentrasi terhadap apa yang dipelajari, si pembelajar harus bisa mengatasi hal-hal yang menyebabkan sulit berkonsentrasi yaitu dengan cara cari tempat yang tenang, memiliki penerangan yang cukup, suhu ruangan yang nyaman, dan tempat duduk yang enak dipakai. Jika ada gangguan, selesaikan dulu sebelum memulai belajar.
c. Tumbuhkan motivasi belajar yang setinggi-tingginya, yaitu dengan menemukan jawaban mengapa seseorang perlu belajar bahan (materi) tersebut. Dia harus bisa membayangkan apa yang menarik dari materi yang dipelajari, topik-topik yang dibahas dalam materi yang dipelajari, dan apa yang bisa dia aplikasikan jika dia menguasai materi tersebut.
d. Membiasakan diri untuk mengulang pelajaran yang dipelajari, bahkan untuk pelajaran yang dinilai cukup sulit, disarankan agar bisa mengulangnya berkali-kali hingga merasa sudah menguasai bahan pembelajaran tersebut. Dengan membiasakan diri mengulang-ulang pelajaran juga, si pembelajar tidak akan memiliki rasa khawatir terhadap materi yang dipelajari akan hilang ataupun akan terlupakan karena si pembelajar sudah menguasainya.
e. Melakukan istirahat dan mengkonsumsi makanan dan mimuman yang bergizi dengan takaran yang lebih dan melakukan penjadwalan ulang terhadap kegiatan rutin setiap hari ataupun kegiatan pembelajaran.
f. Si pembelajar harus bisa memperhatikan lingkungan tempat dia belajar. Lingkungan dalam konteks belajar sangat luas dan sangat sulit untuk dihindari ketika si pembelajar ingin belajar. Akan tetapi keadaan atau lingkungan yang kurang mendukung tersebut dapat ditepis dengan keliahaiannya mengatur waktu dengan lingkungannya seperti keluarga, masyarakat luas, serta di sekolah atau di kampus.
g. Si pembelajar harus bisa mengambil nilai positif dari seorang pembimbing atau dosen yang dinilai kurang bisa menyalurkan ilmu yang dia miliki kepada anak didiknya. Si pembelajar juga harus bisa menghilangkan anggapan bahwa pembimbing yang baik bukanlah pembimbing yang mudah memberikan nilai bagus kepada anak didiknya, tetapi pembimbing yang baik adalah pembimbing yang bisa mentransfer ilmunya dengan baik dan juga nilai hanyalah sebuah ukuran, nilai itu ditentukan oleh si pambelajar sendiri dan bukan oleh pembimbing. Tugas pembimbing hanya mengolah nilai bukan menentukan nilai.
h. Jika suatu materi pelajaran yang menurut si pembelajar dianggap sulit, tentunya hal ini dia simpulkan setelah dia mati-matian mempelajarinya, maka dianjurkan si pembelajar segera melakukan diskusi dengan teman, pembimbing atau siapapun yang bisa dia ajak diskusi guna memecahkan kebuntuan yang ada.
i. Ketersediaan sarana dan prasarana yang bisa menunjang proses pembelajaran baik di rumah maupun di sekolah ataupun di kampus si pembelajar, sangat perlu diperhatikan karena akan percuma bakat maupun motivasi yang dimiliki oleh si pembelajar apabila ketersediaan sarana dan prasarana yang kurang memadai.
j. Perhatian yang lebih dari pemerintah terhadap dunia pendidikan juga merupakan salah satu solusi yang cukup efektif untuk kelancaran seseorang melakukan aktivitas pembelajarannya, dan bentuk perhatiannya seperti pengoptimalan biaya pendidikan sesuai dengan amanat UUD 1945 yaitu dana pendidikan minimal 20% dari APBN maupun APBD. Dengan pengoptimalan tersebut, masalah ekonomi yang diderita oleh si pembelajar akan bisa sedikit teratasi yaitu si pembelajar bisa belajar dengan efektif setelah mendapatkan insentif dari sekolah ataupun kampus dalam bentuk beasiswa.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari makalah yang telah dibahas tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa:
a. Belajar merupakan kebutuhan dasar setiap manusia dan sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup manusia tersebut, serta belajar juga dapat dijadikan sebagai metode pengembangan diri dan lingkungan untuk kedepannya.
b. Dalam setiap proses pembelajaran terdapat beberapa hambatan yang menjadi batu sandungan bagi seseorang yang merasa sulit untuk mencerna pelajaran, akan tetapi hambatan tersebut dapat juga dijadikan sebagai batu loncatan untuk sesegera mungkin mengatasi hambatan tersebut agar bisa lebih baik lagi bagi seseorang yang merasa mampu melakukan hal tersebut.
c. Mengatasi masalah dalam belajar merupakan suatu hal yang sangat perlu dan solusi yang dipilih harus bisa mengurangi tingkat hambatan dan mencegah hambatan tersebut, sehingga hambatan yang dinilai cukup sulit diatasi, bisa sedikit diatasi dengan pemilihan solusi yang efektif untuk mengurangi tingkat permasalahan yang dihadapi dalam belajar tersebut.

Tidak ada komentar: