Jumat, 14 Mei 2010

Proyek Air Tanah

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia beriklim tropis basah, maka curah hujan merupakan sumber air andalan utama untuk pemenuhan kebutuhan irigasi. Curah hujan yang jatuh ke permukaan bumi sebagian dapat digunakan secara langsung untuk air irigasi, sebagian tersimpan dalam waduk, danau, di lahan usahatani dan sebagian lagi masuk ke dalam tanah, tersimpan sebagai air tanah/air bawah tanah (ground water). Keragaman curah hujan (rainfall variability) menurut ruang (spatial) dan waktu (temporal) menyebabkan jumlah, waktu dan penyebarannya curah hujan berbeda antar wilayah dan antar waktu. Keragaman ini seringkali sulit diprediksi dan diantisipasi akibat dinamika atmosfer yang luar biasa, sehingga seringkali terjadi ketidaksesuaian antara yang diperlukan dan yang tersedia. Teladannya, pada musim kemarau, pasokan air sangat terbatas, sementara kebutuhannya relatif tetap, sehingga pasokan air untuk pertanian menjadi terbatas. Kekeringan yang menyebabkan terjadinya kegagalan usaha pertanian, perkebunan, dan peternakan adalah teladannya.
Menyadari hal tersebut, pemerintah bersama masyarakat telah membangun berbagai fasilitas irigasi dengan berbagai sumber air irigasi. Salah satu sumber air irigasi potensial yang belum optimal digunakan adalah pemanfaatan sumber air tanah dalam. Pengembangan irigasi air tanah dalam menjadi pilihan yang menjanjikan apabila di lokasi tersebut ketersediaan sumber air permukaan sangat terbatas sehingga secara teknis, sosial dan ekonomi tidak layak dilakukan. Secara praktikal, pemanfatan air tanah untuk irigasi dapat dikelompokkan menjadi dua bagian:
(a) sebagai suplesi pada saat terjadi kekurangan air dan
(b) sebagai sumber air utama.
Pemanfaatan air irigasi sebagai suplesi umumnya dilakukan pada musim hujan (MH) dan musim kemarau pertama (MK1) pada saat terjadi kekurangan air baik di lahan tadah hujan maupun lahan kering.

B. Tujuan dan Sasaran
1. Tujuan :
Tujuan kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam adalah :
a. Meningkatkan ketersediaan air irigasi untuk memperpanjang masa tanam pada lahan kering dan lahan tadah hujan dalam upaya mendukung usaha pertanian, peternakan dan perkebunan.
b. Meningkatkan IP (Intensitas Pertanaman), luas areal tanam dan peningkatan produktivitas usahatani.
c. Meningkatkan ketersediaan sumber pakan ternak
d. Meningkatkan kualitas produk pertanian dan pendapatan petani.
2. Sasaran :
a. Terbangunnya irigasi air tanah dalam sebanyak 99 unit
b. Meningkatnya ketersediaan air irigasi pada lahan kering dan lahan tadah hujan.
c. Berkurangnya kegagalan usahatani karena
d. kekurangan air irigasi/kekeringan.
e. Meningkatnya produksi usahatani melalui peningkatan luas areal tanam dan peningkatan produktivitas.

C. Pengertian :
1. Air Tanah : air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah.
2. Air Tanah Dalam : air yang berada di dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah dengan kedalaman > 60 meter. Air tersebut terdapat dalam ruang pori dalam lapisan tanah atau batuan yang mengandung air jenuh yang Disebut akuifer.
3. Irigasi : usaha penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang usaha pertanian.
4. Termasuk di dalamnya tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan.
5. Sumber Air : tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah.
6. Sumber Air Irigasi : tempat/wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah yang dapat dipergunakan untuk irigasi.
7. Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) : saluran dan bangunan yang merupakan satu kesatuan dan diperlukan untuk pengaturan dan penyaluran irigasi air tanah yang
8. mencakup penyediaan, pengambilan, penyaluran dan pembagian.
9. Koordinat : letak/posisi suatu wilayah berdasar garis lintang, garis bujur dan ketinggian di atas permukaan laut.
10. Muka air bawah tanah : permukaan air tanah di dalam sumurbor dihitung dari muka tanah setempat atau titik acuan lain.
11. Sumur bor produksi air bawah tanah : sumur bor yang dibuat untuk mengambil air bawah tanah pada atau lebih lapisan ekuifer tertentu.


LOKASI PENGEMBANGAN IRIGASI
AIR TANAH DALAM

Ada dua faktor penting yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengembangan irigasi air tanah dalam agar dapat berhasil dengan baik :
(a) pemilihan lokasi dan
(b) persyaratan petani.
Pemilihan lokasi harus dilakukan dengan dengan kriteria tertentu sebagai persyaratan pemilihan lokasi.
A. Persyaratan Lokasi
1. Mempunyai potensi sumber air tanah pada kedalaman lebih dari 60 meter di bawah permukaan tanah.
2. Lokasi merupakan lahan kering atau tadah hujan dan pada musim kemarau tidak terdapat sumber air permukaan (sungai, danau, waduk, dll), atau air
3. permukaan tidak mencukupi kebutuhan dan bukan merupakan lahan irigasi.
4. Calon lokasi tidak terdapat sumur air tanah dangkal yang sudah dimanfaatkan untuk mengairi lahan usahatani atau tidak direncanakan untuk pengembangan irigasi air tanah dangkal.
5. Usahatani yang dikembangkan adalah tanaman yang mempunyai nilai ekonomi relatif tinggi (high value crop) yang hasil jualnya dapat membiayai operasional
6. dan perawatannya.
7. Pengembangan usahatani di lokasi tersebut sering mengalami kendala/ masalah air/kekeringan.
8. Lahan usaha yang akan diairi merupakan lahan milik petani.
9. Pemerintah Daerah mendukung kegiatan pengembangan irigasi air tanah dalam dan apabila petani belum mampu menyediakan dana operasi dan pemeliharaan bersedia menyediakan dana operasi dan pemeliharaan sampai tahun ke 2.

B. Persyaratan Petani
1. Petani di lokasi memerlukan adanya irigasi air tanah dalam dan bersedia memanfaatkan serta merawat dengan baik.
2. Petani berinisiatif untuk mengusahakan komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomi tinggi, terutama komoditas perkebunan dan peternakan.
3. Telah membentuk Kelompok tani/P3A/P3AT atau bersedia membentuk Kelompok tani/P3A/P3AT apabila dibangun irigasi air tanah dalam.
4. Mampu mengoperasikan, memelihara/merawat dan menyedia-kan dana operasional dan pemeliharaan.
5. Belum pernah mendapatkan bantuan/kegiatan sejenis.


KOMPONEN IRIGASI AIR TANAH DALAM

Untuk mendayagunakan air tanah dalam sebagai sumber air irigasi, maka diperlukan upaya: pengambilan/pengangkatan air dari sumbernya ke permukaan tanah serta penyaluran ke lahan usahatani. Paling tidak ada empat komponen penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan irigasi air tanah dalam: (a) sumur (b) pompa air dan perlengkapannya (c) rumah pompa dan (d) jaringan irigasi air tanah (JIAT). Gambaran rinci masing-masing komponen diuraikan pada bagian berikut ini.
A. Sumur
Untuk dapat memanfaatkan sumber air tanah dalam terlebih dahulu harus dibuat sumur sebagai tempat pengambilan. Sumur tersebut dibuat dengan cara pengeboran dengan kedalaman air tanah dalam dari permukaan tanah > 60 m .
B. Pompa Air dan Perlengkapannya
Pompa air dipergunakan untuk mengangkat air dari dalam tanah ke permukaan tanah. Jenis pompa yang biasa digunakan umumnya pompa sentrifugal, pompa turbin, dan pompa submersible disesuaikan dengan kebutuhan. Pompa air digerakkan dengan motor penggerak motor diesel atau motor listrik. Perlengkapan yang diperlukan agar pompa air agar dapat berfungsi mengangkat atau mengambil air dari dalam tanah antara lain selang dan pipa hisap, selang pembuang, pipa jambang, pipa cassing, dan lain-lain.
C. Rumah Pompa/Genset
Pompa untuk air tanah dalam atau genset pompa air tanah dalam biasanya berukuran besar sehingga pompa/genset diletakkan secara permanen dan tidak bersifat mobile. Untuk melindungi pompa air serta motor penggeraknya/genset dari gangguan pencurian dan pengaruh cuaca yang dapat menyebabkan kerusakan lebih dini perlu dibuatkan rumah pompa. Pembangunan rumah pompa secara permanen terutama ditujukan untuk pompa dan atau mesin penggerak/genset yang berukuran besar dan dipasang menetap (stasioner). Rumah Pompa / Genset Air Tanah Dalam

D. Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT)
Untuk mengalirkan air dari pompa ke lahan usahatani, dibuat/ dibangun jaringan irigasi air tanah (JIAT), yang terdiri dari saluran, bak penampung, bangunan pengatur berupa pintu dan boks bagi, bangunan pengukur debit dan katup penutup yang berfungsi untuk mengatur arah aliran dalam pipa/jaringan irigasi . Untuk mengurangi kehilangan air dalam penyaluran, JIAT perlu dibuat secara permanen dengan dilining ataupun menggunakan sistim perpipaan.
Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT)
E. Kriteria Teknis
a. Sumur :
- Sumur bor
- Kedalaman sumur : > 60 meter , disesuaikan dengan kedalaman dan Ketebalan lapisan akuifer tertekan.
- Debit : > 10 liter / detik
b. Pompa :
- Tipe submersibel atau turbin
- Kapasitas debit : > 10 liter/detik
- Penggerak : motor diesel, bensin, atau listrik
c. Pipa-pipa :
- Dari besi atau PVC
- Diutamakan yang telah memiliki / memenuhi SNI.
- Ukuran dan jumlah disesuaikan dengan kebutuhan.
d. Rumah pompa
- Bangunan permanen, cukup kyat/tahan getaran mesin
- Ukuran minimal 3 x 3 meter
- Lantai dasar cukup kuat menahan beban dan getaran mesin.
e. Bak penampung/ distribusí
- Konstruksi beton
- Kapasitas minimal 5 meter kubik.
f. Jaringan Irrigási/ distribusí :
- Terdiri dari bok-bok bagi dan saluran
- Saluran terbuka atau perpipaan
- Disesuaikan dengan kebutuhan/keadaan lokasi. Bahan, peralatan, dan mesin yang diadakan adalah memiliki jaminan kualitas seperti Standard Nasional Indonesia (SNI), mudah dioperasikan, mudah dipasang, mudah dalam perawatan, tersedia suku cadang, dan dapat diterima petani setempat.


PELAKSANAAN

Paling tidak ada lima hal yang harus diperhitungkan dalam pengembangan irigasi air tanah dalam: (a) survey investigasi dan rencana/desain, (b) pengembangan irigasi air tanah dalam, (c) operasi dan pemeliharaan, (d) pelatihan, (e) pembinaan, (f) temu lapang petani, (g) pemanfaatan, dan (h) pembiayaan.
A. Survey Investigasi dan Desain Sederhana
Survey investigasi dan penyusunan desain sederhana dapat dilaksanakan secara swa kelola oleh petugas Dinas Pertanian bekerjasama dengan instansi terkait seperti dinas yang menangani pertambangan dan pengairan dengan melibatkan petani penerima manfaat.
1. Survey investigasi; dimaksudkan untuk mendapatkan calon lokasi dan petani yang sesuai untuk pengembangan irigasi air tanah dalam, baik dari segi teknis maupun social
2. Calon lokasi dan calon petani yang memenuhi persyaratan ditetapkan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota sebagai lokasi pengembangan irigasi air tanah dalam.
3. Laporan hasil survey investigasi paling tidak memuat :
Letak lokasi berdasarkan daerah administrative dan koordinat lintang dan bujur dengan menggunakan Global Positioning System/GPS atau ekstrapolasi dari peta topografi yang tersedia.
o Kondisi usaha tani
o Kondisi prasarana dan sarana irigasi
o Potensi air tanah dalam untuk irigasi, meliputi kedalaman dan debit andalan (peta hidrogeologi dan pengujian geo-listrik).
o Permasalahan dalam usahatani
2. Desain/rancangan sederhana irigasi air tanah dalam
Rancangan/desain sederhana irigasi air tanah dalam, sekurang-kurangnya mencakup luas lahan yang akan diairi (daerah oncoran), letak/lokasi sumur, kedalaman sumur, lokasi rumah pompa, desain rumah pompa, dan jaringan irigasi yang akan dibangun.
Hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam penyusunan desain ini adalah agar air tanah dalam yang telah diangkat dari sumbernya dengan menggunakan pompa air dapat didistribusikan ke lahan usahatani dengan gaya grafitasi.
3. Kebutuhan bahan, peralatan, dan mesin Berdasarkan hasil SID akan dapat diketahui kebutuhan bahan, peralatan, dan mesin yang diperlukan. Berdasarkan kedalamam dan potensi air tanah, ketinggian bak penampung dari posisi pompa air dan luas lahan oncoran dapat ditentukan spesifikasi pompa air, spesifikasi motor penggerak pompa, jumlah dan spesifikasi kebutuhan pipa-pipa, spesifikasi rumah pompa, dan kebutuhan jaringan irigasi yang diperlukan.
4. Kebutuhan Anggaran/Rencana Kebutuhan Biaya (RAB) Mencakup perkiraan kebutuhan anggaran untuk pengadaan bahan, peralatan, pompa air dan perlengkapannya, pengembangan sumur, pemasangan pipa-pipa, rumah pompa, dan jaringan irigasi. Perkiraan kebutuhan biaya dijadikan dasar dalam penyusunan harga perkiraan sendiri .

B. Konstruksi / Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam
1. Konstruksi /Pengembangan irigasi air tanah dalam dilaksanakan secara kontraktual.
2. Penunjukan pelaksana pengembangan irigasi air tanah dalam berdasarkan kepada ketentuan yang berlaku, antara lain Keputusan Presiden No. 80 tahun 2003 entang pengadaan barang dan jasa beserta perubahanperubahannya.
3. Sebagai dokumen pengadaan adalah hasil SID

C. Operasi dan Pemeliharaan
1. Operasi dan Pemeliharaan pompa, rumah pompa, dan jaringan irigasi air tanah dalam diserahkan kepada petani/kelompoktani P3A penerima manfaat.
2. Biaya operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dalam menjadi tanggungjawab petani/kelompok tani penerima manfaat.
3. Besarnya iuran pelayanan irigasi ditetapkan berdasarkan hasil musyawarah anggota/kelompok.

D. Pelatihan
1. Petani/kelompok tani penerima manfaat diberikan pelatihan terutama teknis operasional dan pemeliharaan pompa air irigasi dan jaringan irigasi air tanah dan serta pelatihan usahatani
2. Pelatihan teknis operasi jaringan irigasi air tanah dalam dilaksanakan oleh pihak ketiga/pelaksana pengadaan dan pemasangan irigasi air tanah dan pelatihan usahatani dilak-sanakan oleh Dinas “Pertanian” Propinsi dan Kabupaten/Kota

E. Pembinaan
1. Pembinaan terhadap peserta penerima manfaat dilakukan Dinas “Pertanian” Propinsi dan Kabupaten/Kota secara berkelanjutan.
2. Pembinaan antara lain meliputi teknik operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dalam, pemilihan komoditas yang diusahakan, teknis budidaya, panen, pasca panen, pengolahan, dan pemasaran hasil.

F. Temu Lapang Petani
1. Untuk memperkenalkan irigasi air tanah kepada petani di sekitarnya dan di daerah lain, perlu dilakukan temu lapang petani di lokasi kegiatan.
2. Kebutuhan dana untuk temu lapang disediakan oleh Dinas Propinsi/Kabupaten/ Kota.

G. Pemanfaatan Oleh karena biaya untuk investasi , operasi dan pemeliharaan
Irigasi air tanah dalam cukup tinggi, maka pemanfaatannya harus dilakukan dengan seefektif dan seefisien mungkin. Komoditi yang diusahakan haruslah komoditi yang bernilai ekonomi tinggi dan hasilnya mudah dipasarkan.

H. Pembiayaan
1. Biaya yang tersedia untuk pengembangan irigasi air tanah dalam dipergunakan untuk sursey, investigasi dan desain (SID), pengembangan sumur dalam, pengadaaan pipa-pipa, pompa air dan perlengkapannya, rumah pompa, jaringan irigasi/distribusi.
2. Kebutuhan biaya untuk penentuan lokasi,, dan pembinaan di bebankan pada anggaran APBD Propinsi, APBD Kabupaten/Kota, dan partisipasi masyarakat.

I. Waktu Pelaksanaan
Waktu Pelaksanaan kegiatan pengembangan irigási air tanah dalam mengacu pada jadwal pelaksanaan sebagaimana pada lampiran 1.


MONITORING DAN EVALUASI

A. Indikator Kinerja
Beberapa indikator kinerja yang digunakan sebagai ukuran untuk penilaian kinerja kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam adalah sebagai berikut :
1. Output : Terbangunnya irigasi air tanah dalam.
2. Outcome : Terjadinya peningkatan ketersediaan air irigasi untuk usahatani dengan memanfaatkan potensi air tanah dalam.
3. Benefit : Terjadinya peningkatan usaha pertanian, seperti peningkatan luas tanam melalui peningkatan luas lahan dan/atau intensitas pertanaman, peningkatan produktivitas.
4. Impact : Peningkatan produksi usahatani dan pendapatan petani.
B. Monitoring dan Evaluasi
1. Monitoring pengembangan irigasi air tanah dalam dilakukan secara swakelola oleh Dinas Pertanian Kabupaten/Kota dan Propinsi.
2. Evaluasi dilakukan pada setiap akhir tahun.
C. Pelaporan
1. Terdapat 2 (dua ) jenis laporan yang harus dibuat, yaitu laporan perkembangan dan laporan akhir .
2. Laporan Perkembangan pelaksanaan disusun dan disampaikan setiap bulan, berisi kemajuan pelaksanaan kegiatan sampai bulan berjalan. Laporan perkembangan disusun mengacu pada form Lampiran 2.
3. Laporan Akhir disusun Setelah pelaksanaan pembangunan irigasi air tanah alam selesai, berisi seluruh rangkaian kegiatan Pelaksanaan Pembangunan Irigasi Air Tanah Dalam. Agar lebih informatif dan komunikatif, Laporan Akhir agar dilengkapi dengan fotofoto dokumentasi dari setiap tahap kegiatan ( kondisi sebelum kegiatan, saat dalam pelaksanaan dan setelah selesai kegiatan).


DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air. 2004. Sekretariat Negara Republik Indonesia. Jakarta

Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi, Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian, Departemen Pertanian. 2002. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Pompa. Jakarta.

Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi, Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian, Departemen Pertanian. 2004. Penyusunan Database Sarana Air Tanah Untuk Irigasi Pertanian. Laporan Akhir. PT. Gita Rencana Multiplan. Jakarta.

Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Nomor : 1451 K/10/MEM/2000 Tanggal 3 Nopember 2000 tentang Prosedur Pemberian Izin Pengeboran dan Izin Pengambilan Air Bawah Tanah (Lampiran V). Jakarta. Sosrodarsono, Suyono dan Takeda, Kensaku (editor). Hidrologi Untuk Pengairan. 2003. PT. Pradnya Paramita. Jakarta.

Tidak ada komentar: