Kamis, 21 Januari 2010

KEWAJIBAN ANAK TERHADAP ORANG TUA

Orang tua itu menurut saya adalah orang yang sangat berjasa dalam kehidupan kita, seperti contoh seorang ibu dia dengan bersusah payah mengandung kita selama 9 bulan, kemudian setelah kita lahir ke dunia ini beliau mengurus kita sedari bayi rela mengorbankan waktu nya untuk kita, mengurus kita sampai saat ini, memberikan kita sebuah cinta yang abadi, cinta yang takkan pernah tergantikan. Dan seorang ayah dia adalah orang yang dengan bersusah payah, memeras keringat, membanting tulang hanya untuk menafkahi istri dan anak – anaknya, bekerja siang malam tak kenal lelah berharap anak istrinya mendapatkan kehidupan yang layak dan nyaman.
Lantas kewajiban apa yang dapat kita lakukan untuk kedua orang tua kita???
1. Berbakti kepada orang tua kita
Qs 46 (Al Ahqaaf) :15. Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri."
Terjemah al ahqaaf diatas sudah sangat jelas memerintahkan kita untuk berbakti kepada orang tua kita.

2. Hormat dan mematuhi orang tua kita
Hormat dan menghargai kepada keduanya, merendahkan suara dan memuliakan keduanya dengan perkataan dan perbuatan yang baik, tidak menghardik dan tidak mengangkat suara di atas suara keduanya, tidak berjalan di depan keduanya, tidak mendahulukan istri dan anak atas keduanya, tidak memanggil keduanya dengan namanya namun memanggil keduanya dengan panggilan, "Ayah, ibu," dan tidak bepergian kecuali dengan izin dan kerelaan keduanya. Dan ada hadits Nabi Muhammad Saw: “Tidak termasuk golongan umatku, mereka yang (tua) tidak menyayangi yang muda, dan mereka yang (muda) tidak menghormati yang tua” (Riwayat at-Turmudzi). Jika seorang anak tidak melakukan penghormatan, maka ia disebut anak durhaka. Ini merupakan dosa besar, yang diancam masuk neraka. Dalam suatu hadits disebutkan: “Diantara dosa-dosa besar adalah menyekutukan Allah, durhaka kepada orang tua, membunuh dan menyatakan sumpah palsu”. (Riwayat Bukhari). Seorang laki-laki bertanya kepada Rosulullah (SAW)," Ya Rosulullah, Siapa yang paling harus aku hormati ? "Rosulullah (SAW) menjawab,"Ibumu". Laki-laki itu bertanya lagi, "Kemudian siapa lagi ?" Rosulullah (SAW) menjawab,"Ibumu". Laki-laki itu bertanya lagi, "Kemudian siapa lagi ?" Rosulullah (SAW) menjawab,"Ibumu". Laki-laki itu bertanya sekali lagi,"Kemudian siapa ? Rosulullah (SAW) menjawab,"Bapakmu". (Sahih Al-Bukhori).
Rosulullah (SAW) bersabda, "Surga ada dibawah telapak kaki ibu."
3. Memuliakan orang tua
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” QS. Al-Isra’, 17: 23. Karena kedua orang tua, terutama ibu, telah mengawali melakukan kewajiban dengan kasih sayang yang dilimpahkan. Sejak anak masih berupa bayi, bahkan masih dalam kandungan. Hamil dengan penuh kesusahan, melahirkan, menyusui, merawat, mendidik dan menafkahi. Semua itu merupakan bentuk kasih sayang yang telah dilakukan kedua orang tua (Lihat: QS. Luqman, 31: 14 dan QS al-Ahqaf, 46: 15). Jadi, tinggal anak yang berkewajiban untuk menghormati dan memuliakan kedua orang tuanya. Orang tua saya pernah menyampaikan kepada saya bahwa anak itu dibagi atas 3 golongan, yaitu : anak yang menjadi fitnah untuk orang tuanya. QS. Al-Isra’, 17: 23. Karena kedua orang tua, terutama ibu, telah mengawali melakukan kewajiban dengan kasih sayang yang dilimpahkan. Sejak anak masih berupa bayi, bahkan masih dalam kandungan. Hamil dengan penuh kesusahan, melahirkan, menyusui, merawat, mendidik dan menafkahi. Semua itu merupakan bentuk kasih sayang yang telah dilakukan kedua orang tua (Lihat: QS. Luqman, 31: 14 dan QS al-Ahqaf, 46: 15). Jadi, tinggal anak yang berkewajiban untuk menghormati dan memuliakan kedua orang tuanya.
4. Rawat dan jagalah mereka dengan penuh cinta
Sekarang Indonesia sekarang ini. Banyak anak yang enggan menyisihkan sebagian waktunya, mengucurkan keringat atau sekadar berlelah-lelah sedikit, untuk merawat orang tuanya yang sudah ‘uzur’. Terutama sekali, bila anak tersebut sudah berkedudukan tinggi, sangat sibuk dan punya segudang aktivitas. Akhirnya, ia merasa sudah berbuat segalanya dengan mengeluarkan biaya secukupnya, lalu memasukkan si orang tua ke panti jompo!! Apakah itu sepadan dengan apa yang dilakukan oleh orang tua terhadap kita dahulu sejak kita masih dalam kandungan sampai pada saat ini, dimana mereka menjaga, merawat kita dengan penuh cinta, kasih sayang, orang tua yang rela tidak tidur semalaman demi menjaga kita,membanting tulang untuk memberi kita makan, pendidikan dan hidup yang layak. Apakah dengan memasukan kedua orang tua kita ke panti jompo atau semacamnya itu pantas untuk semua pengorbanan yang telah di lakukan oleh orang tua kita terhadap kita, seharusnya kita bisa menjaga mereka dikala mereka sudah renta, mungkin kita tidak akan pernah bisa membalas semua pengorbanan orang tua kita sejak dahulu akan tetapi hendak lah kita tunjukan rasa cinta kita, rasa saying kita terhadap kedua orang tua kita dengan menjaga, merawat mereka dengan penuh cinta ketika sudah renta sebagaimana apa yang telah mereka lakukan terhadap kita. Orang tua kita selalu memberikan yang tebaik unutk kita apakah kita bisa melakukan yang baik untuk orang tua kita.
5. Mendoakan kedua orang tua kita
Wahai Rasulullah, apakah aku masih mempunyai kewajiban bakti kepada orang tua yang harus aku kerjakan setelah kematian keduanya?” Rasulullah saw. bersabda, “Ya ada, yaitu empat hal: mendoakan keduanya, memintakan ampunan untuk keduanya, melaksanakan janji keduanya, memuliakan teman-teman keduanya, dan menyambung sanak famili di mana engkau tidak mempunyai hubungan kekerabatan kecuali dari jalur keduanya. Itulah bentuk bakti engkau kepada keduanya setelah kematian keduanya.”
(HR Abu Daud). Salah satu dari tanda cinta kasih kita kepada ibu adalah munculnya pengharapan agar si ibu selalu hidup berbahagia. Bila ia sudah meninggal dunia, kita juga senantiasa mendoakannya, membacakan shalat untuknya serta memohonkan ampunan untuknya. Semua perbuatan tersebut bukanlah hal-hal yang remeh. Dan juga, amat jarang anak yang mampu secara telaten melakukan semua kebajikan tersebut. Padahal, ditinjau dari segi kelayakan, dan segi kesempatan serta kemampuan, sudah seyogyanya setiap anak berusaha melakukannya. Dari kwantitas, semua amalan tersebut tidak membutuhkan banyak waktu. Sekadar perhatian dan kesadaran, yang memang sangat dituntut. Bila seorang anak merasa sangat kurang berbakti kepada kedua orang tuanya, inilah kesempatan yang masih terbuka lebar, untuk menutupi kekurangan tersebut, selama hayat masih dikandung badan. Dan mendapatkan doa dari anaknya merupakan salah satu dari Hak-Hak Orang Tua yaitu :
1. Al Ta'am (memberi nafkah atau makan)
Jika orang tua tidak mempunyai makanan maka kewajiban bagi anak-anaknya memberi makan pada orang tuanya.
2. Al-Maskan (Memberi Tempat Berlindung)
Jika orang tua tidak mempunyai tempat berlindung maka kewajiban anak-anaknya untuk memberi tempat berlindung bagi orang tuanya.
3. Al-Himayyah (Memberi Perlindungan)
Kewajiban bagi seorang anak untuk melindungi orangtuanya dari marabahaya atau kekerasan atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Islam.
4. Al-Tilbaba (Memberi Pengobatan)
Kewajiban untuk memberi pengobatan yang baik kepada orang tuannya disaat mereka jatuh sakit.


5. Al-Dain (Hutang)
Apabila orang tua meninggal dan masih mempunyai hutang maka si anak harus dapat memastikan hutangnya terbayar.
6. Al-Nasab (Garis Keturunan)
Anak-anak dilarang untuk menghina dan mencela orang tuannya sendiri.
7. Al-Janazah (Sholat Janazah)
Anak-anak wajib mensholati orang tuanya jika mereka meninggal dunia dan segera menguburkannya secara Islam.
8. Al-Wasiyyah
Anak-anak harus memenuhi permintaan orang tuanya sebelum meninggal atau apapun yang telah mereka tulis dalam surat .
9. Al-Du'a (Doa)
Anak wajib mendoakan orang tuanya dan memohonkan ampun atas segala dosanya.
10. Al-Malbas (Memberi Pakaian)
Wajib bagi anak untuk memberi pakaian kepada orang tuanya jika mereka memerlukan.
“Dan ucapanlah, “Ya Rabbi, berikanlah kasih sayang kepada mereka berdua, sebagaimana menyayangiku di masa kecil.” (Al-Isra : 24) . Allah swt berfirman : ‘’Maka jangalah kamu katakan pada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka, ucapkanlah pada mereka perkatan yang mulia. Rendahkanlah dirimu terhadap keduannya serta berdo’alah: ‘’ Wahai Robbku, kasihinilah kedua orang tuaku sebagaimana keduanya mengasihi aku diwaktu kecil". (Al Israa 23-24).
Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Orang tua saya melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan syari'at dan adab-adabnya. Apa yang harus di lakukan terhadap ayah dalam kondisi seperti ini.?
Jawaban.
Waalaikumssalam warahmatullahi wabarakatuhu
Kami do'akan semoga Allah memberikan petunjuk kepada ayah anda dan menganugrahinya taubat. Kami sarankan agar anda bersikap lembut terhadapnya dan menasehatinya dengan cara yang sopan serta tidak putus asa akan kemungkinan mendapat hidayah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
"Artinya : Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya ; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKu-lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu". [Luqman : 14-15]

Sumber : http://zcyber75.blogspot.com/2009/01/etika-muslim-kewajiban-seorang-anak.html

Kompetisi Website Kompas MuDA – KFC : Yang Selalu Ada di Indonesia

Indonesia, Negara dengan jumlah pulau paling banyak di dunia, memiliki sejuta warna yang tak mudah untuk dituangkan dalam sebuah kanvas kecil beukuran A3. Disana sangat banyak inspirasi yang bisa diangkat dan dipublikasikan yang nantinya menjadi andalan untuk menarik Negara lain menjalin kerjasama dengan Negara ini. Kebersamaan, persaudaraan, kerjasama, dan rasa saling membantu yang tinggi inilah menjadi tarikan besar untuk Negara lain mau berkunjung dan betah berada si Indonesia serta merupakan aset besar yang berpeluang membantu mengisi celengan Negara ini. Aset itu tidak akan pernah hilang, tidak akan pernah lenyap, tidak akan pernah berkurang, dan akan terus bertambah serta menjamur ke generasi-generasi rakyat Indonesia di masa depannya.

Kebersamaan yang tidak pernah hilang, persaudaraan yang tidak pernah lenyap, kerjasama yang tidak pernah berkurang, dan rasa saling membantu yang terus bertambah serta menjamur, akan tetap menjadi ciri khas yang tak pernah berhanti menjalar ke setiap rakyat Indonesia. Mengingat kondisi Indonesia sekarang yang sedang tidak stabil dan mudah terprovokasi oleh Negara-negara tetangga, dikap-sikap seperti itu sangat diharapkan tumbuh dan makin berkembang pada seluruh rakyat Indonesia guna meredam hujatan dari Negara lain. Namun rakyat Indonesia juga tidak bisa tinggal diam dengan kondisi yang terjadi, rakyat Indonesia harus bisa melawan sebagai bentuk tidak terima atas provokasi atau hujatan yang ada. Meskipun melawan, rakyat Indonesia harus bisa berpikir intelektual dan tidak menyebabkan bertambah rumitnya masalah. Kebersamaan, persaudaraan, kerjasama, dan rasa saling membantu bisa dijadikan senjata yang paling ampuh untuk meredam hujatan yang memprovokasi rakyat.

Indonesia yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai sosial kemasyarakatan, juga bisa menjadikan Indonesia mampu menjaga budaya-budaya sosial yang bisa menyelamatkan rakyat lain yang sedang membutuhkan rasa iba dari sebagian rakyat Indonesia lainnya. Ini menunjukkan suatu bentuk kebersamaan dan persaudaraan yang tinggi antar rakyat Indonesia, dan merupakan suatu nilai tambah bagi rakyat Indonesia di mata dunia. Selain sudah tertanam pada diri rakyat Indonesia untuk berjiwa sosial kemasyarakatan ataupun untuk berjiwa persaudaraan yang tinggi, niai-nilai sosial kemasyarakatan tersebut juga tercoret dalam semboyang Negara Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika yang memiliki makna kebersamaan, persaudaraan, bekerjasama, saling membantu, dan berjiwa sosial kemasyarakatan yang tinggi serta tetap merasakan susah maupun senang dalam bingkai persaudaraan.

Namun dibalik semua nilai sosial kemasyarakatan yang tinggi yang didasari dengan rasa untuk tetap bersama dan bersaudara serta dibaluti dengan bekerjasama dan saling menbantu tersebut, Indonesia tidak luput dari suatu masalah sosial yang mencoreng moral Indonesia di mata internasional. Masalah tersebut mampu mengurangi nilai sosial kemasyarakatan yang tertanam pada diri rakyat Indonesia dan mengabaikan makna Bhineka Tunggal Ika. Perkelahian, penindasan, kekerasan, sampai pada masalah ekonomi sosial yaitu kemiskinan masih menjadi batu sandungan Negara Indonesia untuk naju, padahal semua konflik sosial dan masalah ekonomi sosial ini bisa ditepis dengan nilai-nilai kebersamaan, persaudaraan, kerjasama, dan saling membantu yang tinggi. Kenyataan ini harus bisa diterima dengan lapang dada dan hati terbuka oleh seluruh rakyat Indonesia. Tapi kenyataan ini tidak menurunkan semangat untuk tetap bejuang melawan segala bentuk konflik sosila dan masalah ekonomi sosial tersebut. Dan yang terpenting sebagai rakyat yang terlahir dari rahim Ibu Pertiwi, rakyat Indonesia harus tetap bangga dengan Negara yang telah melahirkan dan membesarkannya.

(www.mudaers.com)

Kamis, 07 Januari 2010

Proses Organik pada Pelapukan (Organic Processes of Weathering)

A. Pengertian Pelapukan
Batuan sebagai bahan dasar pembentukan tanah mengalami proses pelapukan baik secara fisik, kimia maupun biologis sehingga batu-batuan terdesitegrasi menghasilkan bahan induk lepas-lepas. Selanjutnya pelapukan dan dekomposisi akan mengurai bahan induk tanah yang dapat menjadi tubuh tanah.
Batuan induk yang berbeda mempunyai komposisi mineral yang berbeda dan penting dalam proses pembentukan tanah, keseimbangan mineral masam dan alkalis sangat menentukan sifat dan perkembangan tanah selanjutnya. Kaitan antara tanah dengan batuan dialam dapat dikatakan bahwa batuan yang berbeda sifat akan menghasilkan ciri tanah yang berbeda pada taraf awal perkembangan, namun akan memiliki sifat yang sama pada tahap lanjut.
Proses pelapukan dapat didefinisikan sebagai proses perubahan batuan yang terjadi akibat pengaruh langsung atmosfer dan hidrosfer. Proses perubahan dicapai melalui dua proses utama, yaitu pelapukan fisik dan pelapukan kimia, yang berada dalam sebuah keseimbangan fisika-kimia baru. Berlangsungnya kedua proses tersebut dapat dikatakan relatif lambat, tetapi keberadaannya dalam batuan menjadi hal yang cukup penting dari sudut pandang keteknikan.
Adanya pelapukan pada massa dan material batuan sering mengakibatkan rencana desain suatu struktur bangunan menjadi khas, karena pelapukan umumnya mengakibatkan pula perubahan sifat keteknikannya. Mempelajari pengaruh pelapukan batuan terhadap kondisi batuan dan karakteristik sifat keteknikannya merupakan bagian yang sangat penting dalam investigasi geologi teknik. Maka, dalam upaya mengetahui secara rinci karakteristik sifat keteknikan batuan, studi pengaruh pelapukan batuan terhadap beberapa sifat keteknikannya dapat menjadi parameter masukan yang penting guna menunjang kegiatan perencanaan pembuatan desain perkuatan lereng.
B. Penyebab Pelapukan
Salah satu proses yang dapat mempengaruhi terjadinya pelapukan pada batuan adalah proses bahan organik (organic processes). Proses bahan organik ini lebih didominasi oleh tumbuhan yaitu pada akar tumbuhan dan juga hewan sebagai proses tambahan dari bahan organik yang bisa mempengaruhi proses pelapukan batuan. Akar tumbuhan memiliki kemampuan yang berkaitan dengan proses pelapukan batuan, dan kemampuan tesebut diantaranya:
1. Sebagai granulator, yaitu memperbaiki struktur tanah.
2. Sumber unsur hara N, P, S, unsur mikro dan lain-lain.
3. Menambah kemampuan tanah untuk menahan air.
4. Menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur- unsur hara (Kapasitas tukar kation tanah menjadi tinggi).
5. Sumber energi bagi mikroorganisme.

Dari kemampuan tersebut, akar tumbuhan bisa mempengaruhi unsur hara dalam tanah maupun unsur kimia pada batuan. Setelah mempengaruhi unsur kimia pada batuan, akar tumbuhan bisa lebih mudah memecahkan batuan atau melapukkan batuan. Selain disebabkan oleh kemampuan akar tumbuhan mempengaruhi unsur kimia pada batuan, pelapukan juga disebabkan oleh kemampuan akar tumbuhan untuk tumbuh dan berkembang. Apabila akar tumbuhan tumbuh dan berkembang dengan baik, batuan yang ada disekitarnya akan terpengaruh oleh pergerakan akar tumbuhan tersebut dan proses pergerakan akar tumbuhan ini dapat digolongkan dalam pelapukan mekanik (mechanical weathering).

C. Akibat Pelapukan
Setelah batuan mengalami pelapukan yang disebabkan oleh proses bahan organik, batuan tersebut akan mengalami beberapa perubahan pada sifat fisik maupun perubahan pada unsur kimianya.

Sumber:
• http://www.wikipedia.com
• http://www.e-dukasi.net
• http://www.lppm.itb.ac.id

SELEKSI DAN REKAPITULASI METODE PENAMBANGAN

TAMBANG TERBUKA VS TAMBANG BAWAH TANAH
Metode tambang terbuka merupakan kegiatan penambangan yang diterapkan terhadap endapan bahan galian yang terletak di dekat permukaan bumi. Metode tambang bawah tanah atau tambang dalam adalah kegiatan penambangan yang diterapkan terhadap endapan-endapan bahan galian yang tak menguntungkan bila ditambang dengan metode tambang terbuka, karena sulit dijangkau dari permukaan bumi.

Kondisi Endapan
Dengan belajar metode ini, kita telah mengetahui prinsip geologi dan kondisi alam untuk digunakan pada metode penambangan endapan mineral. Untuk itu, pada penambangan terbuka dan bawah tanah harus diperhatikan antara lain:
1. Kekuatan bijih
2. Kekuatan batuan
3. Tempat endapan
4. Kemiringan endapan
5. Ukuran endapan
6. Kualitas bijih
7. Keseragaman bijih
8. Kedalaman
Kondisi endapan mempengaruhi seleksi dari metode penambangan, antara tambang terbuka dan tambang bawah tanah dengan melihat dari kulaitas bijih dan kedalaman. Jika kedalamannya antara rendah-tinggi, maka tambang terbuka, tetapi jika ndapan mineral berada pada bagian bawah tanah, maka digunakan tambang bawah tanah. Metode tambang bawah tanah diterapkan jika kedalaman endapan , dan atau nisbah pengupasan overburden terhadap bijih menjadi sangat besar untuk ditambang dengan metode tambang terbuka.
Pemilihan Metode Penambangan
Dalam kegiatan penambangan, aturan utamanya adalah memilih suatu metoda penambangan yang paling sesuai dengan karakteristik unik (alam, geologi, lingkungan dan sebagainya) dari endapan mineral yang ditambang di dalam batas keamanan, teknologi dan ekonomi, untuk mencapai ongkos yang rendah dan keuntungan yang maksimum. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan tersebut adalah :
1. Karakteristik spasial dari endapan
Factor-faktor ini merupakan faktor penting yang dominan karena umumnya sangat menentukan dalam pemilihan metode penambangan antara tambang terbuka dengan tambang bawah tanah, penentuan tingkat produksi, metode penanganan material, dan bentuk tambang dalam badan bijih. Factor-faktor tersebut meliputi :
a. Ukuran (dimensi, terutama tinggi dan tebal)
b. Bentuk (tabular, lenticular, massive, irregular)
c. Orientasi (dip/inklinasi)
d. Kedalaman ( rata-rata dan nilai ekstrem, yang akan berimbas pada stripping ratio)
2. Kondisi geologi dan hidrogeologi
Karakteristik geologi, baik dari badan bijih maupun batuan samping, akan mempengaruhi pemilihan metode penambangan, terutama dalam pemilihan antara metode selektif dan nonselektif serta pemilihan system penyanggaan pada system penambangan bawah tanah. Hidrologi berdampak pada kebutuhan akan penyaliran dan pemompaan, sedangkan aspek mineralogy akan menentukan syarat-syarat pengolahan.
a. Mineralogi dan petrologi (Sulfida vs Oksida),
b. Komposisi kimia
c. Struktur endapan (lipatan, sesar, ketidakmenerusan, intrusi)
d. Bidang lemah, (kekar, rekahan)
e. Keseragaman, alterasi, erosi (zona dan daerah pembatas)
f. Air tanah dan hidrologi (kemunculan, debit aliran dan muka air)
3. Sifat-sifat geoteknik (mekanika tanah dan mekanika batuan) untuk bijih dan batuan sekelilingnya. Hal-hal ini akan mempengaruhi pemilihan peralatan pada system penambangan terbuka dan pemilihan klas metode dalam system tambang bawah tanah (swasangga, berpenyangga atau ambrukan)
a. Sifat-sifat fisik yang lain (bobot isi, voids, porositas, permeabilitas, lengas)
b. Sifat elastik (kekuatan, modulus elastik, nisbah, dan lain-lain)
c. Perilaku elastik atau visko elastik (flow, creep)
d. Keadaan tegangan (tegangan awal, induksi)
e. Konsolidasi, kompaksi dan kompeten (kemampuan bukaan pada kondisi tanpa penyangga)
4. Konsiderasi ekonomi
Faktor-faktor ini akan mempengaruhi hasil, investasi, aliran kas, masa pengembalian dan keuntungan. Faktor ini meliputi :
a. Cadangan (tonase dan kadar),
b. Produksi,
c. Umur tambang,
d. Produktivitas,
e. Perbandingan ongkos penambangan untuk metode penambangan yang cocok
5. Faktor teknologi
Kondisi paling cocok antara kondisi alamiah endapan dan metode penambangan adalah yang paling diinginkan. Sedangkan metode yang tidak cocok mungkin tidak banyak pengaruhnya pada saat penambangan, tetapi kemungkinan akan mempengaruhi pada kegiatan pendukung tambang/terusannya (pengolahan, peleburan, dll). Yang termasuk dalam faktor teknologi adalah :
a. Perolehan tambang, Dilusi (jumlah waste yang dihasilkan dengan bijih),
b. Ke-fleksibilitas-an metode dengan perubahan kondisi,
c. Selektifitas metode untuk memisahkan bijih dan waste,
d. Konsentrasi atau dispersi pekerjaan,
e. Modal, pekerja dan intensitas mekanisasi
6. Faktor lingkungan
Factor lingkungan yang dimaksud tidak hanya berupa lingkungan fisik saja, tetapi juga meliputi lingkungan social-politik-ekonomi. Yang termasuk dalam faktor lingkungan adalah :
a. Kontrol bawah permukaan untuk merawat kondisi bukaan,
b. Penurunan permukaan tanah (subsidence), atau efek ambrukan pada permukaan tanah.
c. Kontrol atmosfir (ventilasi, kontrol kualitas, kontrol panas dan kelembaban),
d. Kekuatan kerja (pelatihan, recruitment, kesehatan dan keselamatan, kehidupan, kondisi permukiman)

Pengelola industri harus bisa memilih metode panambangan yang paling tepat untuk cebakan bijih tertentu. Selain karakteristik badan bijih yang mempengaruhi pemilihan metode panambangan, karakteristik operasional khusus untuk setiap metode penambangan secara langsung juga ikut mempengaruhi pemilihan metode penambangan.
Karekteristik operasional tersebut meliputi:
 Skala penambangan
 Laju produksi
 Selektivitas
 Persyaratan pekerja
 Keluwesan ekstraksi
Keputusan terakhir dalam pemilihan metode penambangan akan merefleksikan sifat-sifat mekanik dari badan bijih dan lingkungannya serta hal-hal teknik praktis lain. Misalnya, non-selective method seperti block caving tidak akan diterapkan pada cebakan bijih dimana selective recovery diperlukan, walaupun cebakan tersebut sangat sesuai untuk ditambang dengan metode block caving.
Kadang-kadang muncul permasalahan bahwa pemilihan metode penambangan dapat menimbulkan beberapa kesulitan teknis. Kesulitan yang timbul adalah bagaimana menggabungkan bebarapa faktor yang berpengaruh agar bisa memutuskan metode penambangan yang sesuai untuk suatu cebakan bijih. Berdasarkan perkembangan filosofi dan sejarah ilmu pertambangan, metode penambangan dikembangkan untuk dapat mengakomodir dan mengeksploitasi beberapa kondisi penambangan. Prosedur paling baik yang dapat dikembangkan dalam pemilihan metode penambangan adalah dengan melibatkan logika berpikir suatu sistem komputer.
Pemilihan metode panambangan sulit diterapkan bila berhadapan dengan badan bijih besar yang harus ditambang dengan dua metode panambangan yang berbeda, misalnya block caving dan open stoping. Block caving akan menjadi metode yang lebih disukai karena jumlah tenaga kerja yang sedikit, biaya per tonne yang rendah dan keuntungan-keuntungan teknis lainnya. Prasyarat utama yang harus dipenuhi adalah bahwa ambrukan dapat diinisiasi pada badan bijih dan merambat dengan kecepatan konstan melalui badan bijih sebagai broken ore.
Tujuan utama dalam pemilihan suatu metode untuk menambang suatu endapan mineral adalah dalam rangka merancang suatu sistem eksploitasi yang paling sesuai dengan kondisi sebenarnya. Dalam hal ini pengalaman berperan utama dalam pengambilan keputusan, yang memerlukan banyak pertimbangan berdasarkan evaluasi rekayasa.

METODE NOVEL VS METODE TRADISIONAL
Metode Novel yaitu pemilihan metode penambangan dilakukan berdasarkan pada keuntungan terbesar yang akan diperoleh, bukan berdasarkan letak dangkal atau dalamnya suatu endapan, serta mempunyai perolehan tambang (mining recovery) yang paling baik sedangkan metode tradisioal adalah penambangan secara sederhana adalah penambangan yang menggunakan tanaga manusia atau hampir tidak menggunakan tenaga mesin atau alat mekanis.

Kondisi endapan
Karakteristik dari endapan mineral harus jelas pada pemilihan apakah metode penambagan novel ataukah metode tradisional.
1. Batubara: Penambangan hydraulik dan gasifikasi bawah tanah adalah metode novel daripada metode tambang bawah tanah konvensional, khsusus pada room and pillar dan longwall minig.
2. Hidrokarbon
3. Mineral logam dan non logam: tiga metode novel yang diaplikasikan pada endapan mineral yang bukan batubara antara lain rapid excavation, tambang laut, tambang eksterrestrial.
4. Semua mineral

ANALISIS HARGA
Dasar ultimat untuk memilih metode penambangan adalah ekonomis. Konsiderasi keamanan dan teknologi adalah tersusun. Ita menyiapkan estimasi harga untuk semua metode untuk membuat pilihan akhir. Biasanya proses itu dilakukan (1) Jika kedalaman endapan adalah menengah, harga awalnya untuk kategori umum dari tambang permukaan (2) ketika pemecahan dengan beberapa, harga tambangnya secara keseluruhan ada pada prospeksi, eksplorasi, pengembangan, dan eksploitasi akan meningka, tetapi beberapa yang instant, konsiderasi dari semua harga produksi ( proses mineral, peleburan, transportasi).

Harga Tambang Permukaan vs Tambang bawah tanah
Untuk metode penambangan bawah tanah (underground mining) dampak negatifnya terhadap lingkungan hidup agak terbatas. Yaitu perlu diperhatikan dan diwaspadai adalah dampak pembuangan batuan samping (country rock/waste) dan air berlumpur hasil penyaliran tambang (mine drainage). Kecuali untuk metode ambrukan yang dapat merusak bentang alam (land scape) atau morfologi, karena terjadinya amblesan (surface subsidence). Oleh sebab itu jangan memakai metode abrukan, bila masih mungkin memakai metode penambangan bawah tanah yang lain. Metode penambangan bawah tanah yang dapat mengurangi timbulnya gas-gas beracun yang berbahaya adalah penambangan dengan auger karena pemberaiannya (loosening) tidak memakai bahan peledak.

Metode penambangan terbuka (surface mining) memang dikenal sangat merusak lingkungan hidup (vegetasi, penutup dan tanah atas hilang, lapisan tanah penutup (overburden) teraduk-aduk, bentang alam atau morfologi lahan rusak, erodibilitas bertambah, kemantapan lereng menurun, dll), oleh karena itu harus dicarikan modifikasi metode yang lebih baik, antara lain :
(I) Back filling digging methods Cara ini dapat diperlakukan terhadap bermacam-macam endapan bahan galian dan dapat mengurangi luas lahan yang terkupas serta proses reklamasi dapat segera dilaksanakan di daerah yang sudah ditimbun kembali (back filled areas).

Metode seleksi
Sebelum merancang beberapa prosedur yang komprehensif untuk memilih metode pertambangan, kita akan melakukan dengan baik untuk meninjau creteria dan faktor-faktor yang telah disebutkan dalam relevan. beberapa yang paling penting adalah kedalaman, ukuran, bentuk dan sikap deposit (faktor geometrik) geo0logi dan economi properti hydrologi condition.geotecnical pertimbangan faktor teknologi seperti pemulihan, pengenceran, fleksibilitas, dan selektivitas dan masalah lingkungan hidup. Pedoman dan model perencanaan desain suatu sistem eksploitasi juga dibahas.
Kita juga harus ingat bahwa karakteristik atau kondisi khas dari deposit mineral yang mempengaruhi pilihan metode telah diringkas secara terpisah untuk kedua pertambangan locales, permukaan, dan bawah tanah. sebagai tambahan, beberapa keputusan disederhanakan matriks untuk membantu dalam pemilihan metode bawah tanah.
Sebagai hasil dari pembahasan sebelumnya, serta artikel sebelumnya dalam bab ini, kita berada dalam posisi untuk mempertimbangkan metode yang lebih komprehensif prosedur seleksi. Sebuah kualitatif satu, dikembangkan untuk pertambangan tradisional klasifikasi metode yang digunakan untuk membantu pemilihan metode yang sesuai, berdasarkan karakteristik deposito penting. Semua 18 dari metode utama, baik permukaan dan bawah tanah, dan tiga categ…………………………………………………………………..

Sementara prosedur seleksi ini sangat sederhana dan cepat untuk menggunakannya bukanlah definitif maupun kuantitatif. Hanya istilah relatif bekerja dan sejumlah kriteria-terutama geologi, economi, teknologi dan lingkungan diabaikan. kita menyimpulkan bahwa 15,8 meja berguna sebagai pendekatan pertama dan untuk mempersempit pilihan dengan ragu-ragu untuk beberapa kandidat metode, tetapi yang lebih selektif, prosedur kuantitatif diperlukan.

Tahap Pertambangan
Dua tahap aktivitas pertambangan pendahulu aliran utama pertambangan: Prospecting dan eksplorasi. Menempatkan calon pelanggan yang berpotensi berharga cebakan batubara, bijih besi, atau batu, dan eksplorasi mendefinisikan itu. Tujuan mereka adalah untuk mempersempit pencarian untuk meningkatkan favorability dan untuk mengurangi resiko. baik langsung maupun tidak langsung metode pencarian dimanfaatkan, alat utama geologi, Geofisika, dan geokimia .. Pemboran atau menggali sampel adalah final dan wajib diambil langkah untuk memperoleh bukti adanya data body.Sampling bijih hipotetis kemudian harus dikompilasi ke perkiraan cadangan tonase dan kelas, menggunakan metode klasik atau geostatistical. Penyusunan laporan kelayakan menandai transisi antara tahap kedua dan ketiga dalam kehidupan tambang
Pertambangan dimulai dengan pembangunan yang tepat. Aturan utamanya selama dua tahap akhir pertambangan adalah bahwa pembangunan yang optimal untuk dimaksimalkan tingkat eksploitasi keuntungan total harus ditentukan untuk setiap project.In saya baru membuka pertambangan deposit untuk tiga kelompok utama mengatur faktor pembangunan. Sebanyak 11 berurutan langkah-kadang dijadwalkan oleh BPT atau bagan PERT - mungkin diperlukan dalam mengembangkan sebuah tambang. Eksploitasi adalah tahapan produksi pertambangan dan dimulai dekat selesainya pembangunan. dalam memilih metode pertambangan kita memilih satu yang paling cocok dengan karakteristik unik deposit, dalam batas-batas yang ditentukan oleh teknologi keselamatan dan ekonomi untuk mengembalikan keuntungan terbesar. Sekali lagi berbagai faktor (enam) mengatur eksploitasi. Pertambangan metode diklasifikasikan generik oleh lokal dan kelas dalam skema yang diajukan di sini, dan estimasi biaya dipecah menjadi langsung, tidak langsung, dan biaya keseluruhan selama empat tahap pertambangan
Unit operasi
Sisa buku ini dikhususkan aspek rekayasa pembangunan dan eksploitasi tambang. Kami berurusan pertama dengan operasi dasar tertentu yang dilakukan untuk membebaskan dan transportasi dari mineral deposit. Mereka disebut unit operasi pertambangan meliputi produksi dan langkah-langkah tambahan. dalam siklus produksi batu terjadi kerusakan, biasanya terdiri atas pengeboran dan peledakan dan penanganan material umumnya terdiri dari pemuatan dan daya angkut. Bantu operasi termasuk kesehatan dan keselamatan pengendalian lingkungan, pengendalian tanah dan mendukung berbagai kegiatan. Karena pertambangan sangat mekanik hari ini (dasarnya
100% di Amerika Serikat) unit operasi sangat erat diidentifikasi dengan peralatan.

SURFACE MINING : METHOD COMPARASION AND SUMMARY

A. Metode Rekapitulasi

Metode ini merupakan metode lanjutan dari pengembangan dan explotasi dari proses penambangan/ laporan-laporan yang ada, seperti laporan hasil penelitian dengan menggunakan sumur bor, rincian biaya produksi dari prospeksi sampai reklasi lahan, laporan pemilihan jenis tambang yang digunakan, di kaji ulang dan dibuatkan ikhtisarnya untuk mendapatkan keputusan yang paling tepat, yaitu endapan mineralnya dapat diambil secara optimal dan mendapatkan keuntungan karena cost lebih kecil dari pendapatan.

Dalam rekapitulasi harus memperhatikan faktor-faktordibawah ini :
1. Karakteristik dari endapan mineral
2. Kondisi geologi dan hidrologi
3. Geoteknologi yang ada
4. Pertimbangan ekonomi
5. Faktor teknologi
6. Masalah lingkngan

B. Tahap-tahap Pengembangan

Dalam bab tiga sudah dibahas mengenai jenis dari metode tambang yaitu tambang terbuka , tambang dalam, dan lain-lain. Namun dalam bab ini hanya sebatas tambang terbuka. Dalam tambang terbuka tahap tahap yang paling dipertingbangkan yaitu tahap 5 ( lingkungan dan reklamasi), tahap 8 ( waste disposal), tahap 10 (pembukaan overborder dan akses). Dan selanjutnya akan kita bahas dalam subbab ini :
1. Lingkungan dan Reklamasi
Dalam proses penambangan selalu mengakibatkan dan menmberikan dampak yang negatif bagi lingkungan, namun tingkat kerusakannya bervariasi tergantung dari metode penambangannya. Dalam industri pertambangan, juga merupakan aspek yang sangat penting dan diperhatikan. Kerusakan lingkungan yang diebabkan oleh tambang terbuka open pit yaitu erat kainnya dengan pengambilan tanah pucuk (banyak mengandung zat hara) yang kemudian tanah tersebut tidak dipelihara dan diberikan perlakuan tertentu (dibuang saja) sehingga tanahnya menjadi tandus, managemen pembuangan zat-zat padat seperti overburdet yang tidak terarah dan cenderung merusak lahan sekitar, pencemaran air dan udara yang disebabkan oleh lingkungan penambangan. Pada open cast mining dari batu bara, reklamasi lahan yang telah ditampang merupakan aspek utama yang diperhatikan, dan termasuk dalam siklus penambangan, bahkan terdapat dana yang memang disimpankan untuk proses reklamasi. Namun pada metode penambangan open pit dan quarrying endapan nonbatubara, peraturan yang mengatur sangatlah lemah. Sehingga banyak perusahaan yang selesai menambang tidak melakukan reklamasi. Reklamasi itu sendiri merupakan pengembalian kembali lahan sebelum ditambang. Pada open cast kerusakan lingkungan yang didapat tidak terlalu berat disbanding open pit. Dilain halmetode leaching memberikan dampak yang sangat ekstrim bagi lingkungan, karena metode ini dengan menggunakan seyawa kimia yang dimasukkan dalam tanah. Sehingga mengakibatkan air tanah tercemar, dan mencakup wilayah yang luas, karena prinsip dari air itu sendiri selalu bergerak.
2. Waste disposal
Pada umumnya endapn selalu ditutupi oleh overborder, dengan ketebalan yang bervariasi. Namun ada juga yang endapan bijinya berasosiasi dengan overborder dan zat-zat buangan lainnya (zat pengotor dan pengganggu). Jika dalam proses ini zat-zat tersebut tidak dibuang maka akan mengakibatkan pemborosan dan pembengkakan pada cost. Mulai dari biaya penggalian,transportasi, benefisiasi, dan lain-lain. Jika diakumulasikan akan terjadi pembengkakan cost, maka harus dibuang. Namun harus tetap mempertimbangkan aspek lingkungannya.
3. Pembukaan overborder dan akses
Seperti yang dijelaskan dalam poin ke dua overburder harus diambil, dan cara yang paling efektif yaitu dengan mechanical extraction. Mengambil overburder tersebut dengan menggunakan mesin dan memindahkannya ke tempat yang lain. Pada open pit overburdernya diambil semua tidak bersisa, maksudnya sampai terbuka endapan mineral ang ditambang. Biasanya overburdernya dalam area yang luas namun kedalamannya sedikit. Sedangkan dengan metode aqueous extraction hanya lapisan yang akan ditmbang saja yang akan diambil, karena menggunakan borehole untuk mengambik endapan mineralnya.

C. Siklus Dalam Proses Penambangan

Siklus dalam proses penambangan pada dasarnya sangatlah bervariasi karena itu secara umum hanya dibagi menjadi dua macam yaitu :
1. Proses Produksi
2. Proses-proses penunjang
proses-proses yang termasuk proses penunjang yaitu meliputi sebagai berikut :
1. Reklamasi
2. Stabilitas lereng.
3. Construksi Jalanan Pengangkut
4. Pemeliharaan alat
5. Pit Tempat Pembuangan
6. Komunikasi
7. Proses Distribusi
8. Pengontrolan debu, bisingan, dan keamanan

D. Kondisi Geologi dan Alam

Kondisi alam sangat berpengaruh dalam pemilihan metode yang akan digunakan dalam penambangan, untuk itu harus memperhatikan syarat-syarat di bawah ini :
1. Tambang terbuka ideal jika endapan bijihnya lebar, pada lapisan yang datar, dan berada dekat permukaan.
2. Endapan mineralnya berada pada kedalaman sangat jauh, tambang dalam, lebarnya sangat sempit. Overburdernya terlalu tebal maka menggunakan metode tambang dalam
3. Endapannya dan berada pada lapisan yang beragam, maksudnya berseling overburder ,endapan, overburder endpan dan begitu seterusnya maka lebih baik dengan metode aqueous extraction.

E. Untung dan Rugi

Untung dan rugi merupakan aspek yang sangat penting, jika suatu endapan jika ditambang akan cenderung rugi mending tidak perlu ditambang, namun jika sebaliknya maka bisa ditambang. Untuk dapat menentukan untung dan ruginya dalam proses penambangan sangat dipengaruhi oleh :
1) Mining cost, jika biaya penambangan lebih rendah daripada pendapatan maka akan untung namun, jika sebaliknya akan rugi.
2) Tingkat produksi, mulai dari skala kecil sampai besar. Semakin besar semakin tinggi jika harga mineralnya tinggi. Namun jika sedang turun lebih baik hentikan produksi daripada rugi.
3) Investasi modal, semakin besar modal maka semakin canggih teknologi yang digunakan sehingga lebih efektif dan optimal produksinya.
4) Tingkat pengembangannya, berkaitan dengan kecepatan dari pengembangan tambang, semakin lama semakin banyak cost yang dikeluarkan.
5) Kedalaman sumur, erat kaianya dengan metode borehole. Semakin dalam boreholenya semakin banyak cost yang dikeluarkan.
6) Selektifitas, semakin selektif semakin tidak ada atau sedikit mineral pengotor yang ikut terproses maka semaki kecil cost yang dikeluarkan. Namun sebaliknya semakin besar yang dikeluarkan.
7) Recovery, pada open pit sangat besar biayaya sedangkan aqueous kecil.
8) Dilution, semakin banyak yang dibuang semakin banyak pengeluaran.
9) Fleksibilitas, menyesuaikam dengan kondisi pasar.
10) Stabilitas dari pembukaan, maksudnya semakin tahan pitnya sehingga tidak terjadi longsoran.
11) Resiko lingkungan, biaya yang digunakan untuk reklamasi lahan tambang.
12) Waste disposal, sama prisipnya dengan selektifitas.
13) Health and safety , biaya yang dikeluarkan untuk keselaatan pegawai dan tenaga kerja
14) Dan lain-lain.
F. KEPENTINGAN DAN REKAPITULASI

Dalam mengambil sebuah keputusan untuk memilih metode apa yang akan digunakan, akan sangat memerlukan banyak pertimbangan. Tambang terbuka banyak digunakan dalam produksinya, bahkan hampir 85 % perusahan tambang yang ada menggunakan metode ini, karena hampir 95% materialnya bisa diambil walaupun terkadang bijinya bercampur dengan zat pengotor atau zat yang seharusnya dibuang. Ketika melihat kembali dari segi keselamatan, teknologi, ekonomi, tambang terbuka akan dengan sangat mudah menang. Tambang terbuka sangat cocok untuk endapan mineral body orenya pada kedalaman yang rendah.
Namun pada kenyataaannya, semua endapan mineral bisa ditambang dengan menggunakan tambang terbuka. Endapan-endapan ini dapat ditambang dengan metode tambang tertutup. Factor-faktor yang mempengaruhi digunakannya tambang dalam yaitu sbb :
a. Endapan mineralnya berada dikedalaman yang sangat dalam
b. Tingkat resiko lingkungan yang terlalu tinggi jika menggunakan open pit mining.
c. Biaya reklamasi lahan yang terlalu tinggi jika dengan open pit mining.
d. Zat pembuangannya akan sangat tinggi jika menggunakan open pit mining.
e. Iklim dan cuaca lokasi yang ditambang, jika dengan tambang dalam produksi tetap berjalan walaupun cuaca buruk.

G. KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pengambilan keputusan yang tepat tentang metode penambangan endapan mineral, kita tidak boleh hanya memperhatikan metode mana yang dapat mengambil endapan mineral yang banyak. Namun juga harus memperhatikan kondisi endapan mineral tersebut, faktor lingkungan, keamanan, dan juga biaya produksinya. Sehingga didapatkan metode yang paling sesuai dan menguntungkan

UNDERGROUND MINING : UNSUPPORTED METHODS

Unsupported Methods adalah suatu metoda yang tidak menggunakan timber atau filling dalam menyangga dinding, baik hanging wall maupun footwall. Penyanggaan pada dinding dilakukan dengan pilar-pilar dan baut batuan digunakan untuk penyanggaan local.
Unsupported methods dapat diklasifikasikan menjadi:
a. Room & Pillar Mining
Pada metode penambangan RP, batubara diekstraksi dengan meninggalkan pilar yang difungsikan sebagai penyangga ruang kosong (room) pada lapisan batubara di dalam tanah. Ruang kosong itu sendiri terbentuk sebagai akibat terambilnya batubara pada lapisan yang bersangkutan. Adapun ukuran pilar ditentukan dengan menghitung kekuatan batuan atap, lantai serta karakteristik lapisan batubara, yang dalam hal ini adalah tingkat kekuatan/kekerasannya.
Pada praktiknya, area yang akan ditambang dibagi terlebih dulu ke dalam bagian – bagian yang disebut panel, dimana pengambilan batubara dilakukan di dalamnya. Sebagaimana terlihat pada gambar di bawah, barrier pillar berfungsi untuk memisahkan panel – panel penambangan, sedangkan panel pillar berfungsi untuk menahan ruang kosong pada panel saja. Dengan demikian, meskipun masih terdapat resiko runtuhan atap pada suatu panel, tapi keberadaan barrier pillar akan memberikan jaminan keamanan melalui penyanggaan area tambang secara keseluruhan.

RP adalah metode penambangan yang sederhana dan tidak memerlukan biaya yang besar. Akan tetapi, cara ini hanya akan menghasilkan recovery batubara yang rendah, umumnya maksimal 60%, disamping memerlukan kondisi lapisan batubara yang landai (flat) dan relatif tebal. Selain itu, RP hanya bisa diterapkan pada penambangan lapisan batubara yang dekat dengan permukaan tanah karena tekanan batuannya belum begitu besar. Seiring makin dalamnya lokasi penambangan berarti tekanan batuan akan membesar, serta potensi emisi gas dan keluarnya air tanah akan bertambah. Pada kondisi demikian, RP sudah tidak layak lagi untuk dilakukan sehingga diperlukan metode lain yang lebih aman dan ekonomis, yaitu Long Wall.
b. Stope and pillar mining, dapat dibagi menjadi:
• Open stope dengan underhand stoping.
Pada metode ini,bagian level atas level bawah dihubungkan dengan raise,dan penambangan dimulai dengan memotong bagian atas dari raise sehingga terbentuk jenjang pada cebakan dimana para pekerja berdiri.Dijih lepas kemudian ditarik setahap demi setahap sampai menapai raise,selanjutnyan dijatuhkan kelevel drive dibawahnya.Jadi bijih ditambang dari atas kebawah dengan jenjang menurun dan dijatuhkan menuju haulage drive secra grafitasi sehingga meminimumkan transportasi mekanikal.
• Open stope dengan overhand stoping
Overhand stop secara praktis berlawanan sengan underhand stoping yaitu tempat pekerja mengarah keatas dan berada dibawah bijih yang akan ditambang.Bijih ditambang selapis demi selapis dan memungkunkan bijih lepas jatuh ke haulage level yang biasanya dilindungi oleh pilar dari bijih atau timber mat
• Open stope dengan breast stoping (stope and pillar)
Pada metoda ini,pembongkaran bijih dilakukan secara maju (advancing ) terhadap bijih yang terletak horizontal dengan tinggi kurang dari 3 m, dimana kondisi ini tidakk memungkinkan dilakuakn dari atas kebawah. Penyanggaan atap (roof) pada breast stoping biasanya secara permanent atau semi permanent pillar yang terdiri dari bijih itu sendiri
Untuk cebakan yang lebih tebal, maka bijih ditambang secara berjenjang metode ini digunakan untuk cebakan sampai ketebalan 13 m. pillar yang dibuat kadang-kadang diperkuat dengan sement sekelilingnya.
Pada cebakan yang datar dengan keteblan kurang dari 4-5 m, metoda ini dilakukan dengan menggali bijih sehingga terbentuk " Wide diifts " dan secar sistematis dengan interval teratur ditinggalkan bijih sebagai pillar.
c. Shrinkage Stoping
Shrinkage stoping diterapkan untuk badan bijih yang besar, kemiringan 50˚-90˚ ( sleeply ).metoda ini terletak antara kelas open stope dan filled stope.Bijih dihancurkan secara metoda overhand dan dibiarkan terkumpul dalam stope. Mengingat bijih akan mengembang dila dihancurkan makia sekitar 35% dari volume batuan yang dihancurkan setiap peledakan harus diambil untuk memberikan ruangan yang cukup dagi pekerja untuk bekerja diantara bagian atas bijih lepas dengan atap.
Apabila bijihnya lemah, maka bagian atap diatas pekerja dapat disangga dengan baut batuan selama penambangan. Dinding stope secara otomatis akan disangga oleh bijih lepas sampai kegiatan penambangan bijih selesai. Selanjutnya bijih diambil secara keseluruhan, membentuk stope yang kosong. Dalam kasus ini membetuk open stope atau metode shrinkage stoping general.Apabila dikhawatirkan akan terjadi keruntuhan, dan hal ini tidak diinginkan, maka stope dapt diisi oleh wate yang berasal dari stope atau kegiatan diatasnya,dalam kasus in membentuk filled stope atau metode shrinkage and fill. Development yang dilakukan mirip dengan sublevel stoping, kecuali tidak mempunyai sublevel.Penambangan bijih dilakukan pada sayatan horizontal dimulai dari bagian bawah mengarah ketas melalui suatu manway.Manway dibuat dekat pillar vertical yang memisahkan stope yang berdekatan.Pillar vertical berukuran lebar diatas 40 feet
Pada shrinkage stoping, ore di angkut di horizontal slice, dimulai dari bawah stope dan terus maju ke atas. Bagian dari ore yang hancur ditinggalkan di stope yang telah ditambang, yang berfungsi sebagai platform kerja untuk menambang ore bagian atas dan untuk mensupport dinding-dinding stope.

Melalui blasting, batuan menambah volume yang didudukinya sekitar 50%, oleh karena itu 40% dari ore yang telah di blasting harus diambil secara kontinyu selama penambangan untuk menjaga supaya keseimbangan headroom antara atas dan bawah ore yang telah diblasting. Ketika stope telah maju ke batas atas dari stope yang direncanakan, hal ini dihentikan, dan sisanya yang 60% dari ore dapat di ambil.
Ore body yang lebih kecil dapat ditambang dengan satu stope, area yang lebih besar dari ore body dibagi atas beberapa stope yang terpisah oleh pillar untuk menstabilkan hanging wall. Pillar biasanya dapat diambil setelah penambangan yang reguler selesai.
Shrinkage stoping dapat dipakai pada ore body dengan :
• Dip yang tegak atau >70%
• Ore nya kuat
• Hanging wall dan foot wall stabil secara komparatif
• Ore body homogen
• Ore tidak dipengaruhi storage di stope (seperti sulfida ore yang cenderung terbakar dan terpisah ketika terekspos ke udara.
Development untuk shrinkage stoping terdiri atas :
• Drift pengangkutan sepanjang bagian bawah stope
• Crosscut ke ore di bagian bawah stope.
• Finger raise dan cones dari crosscut ke undercut
• Undercut atau lapisan bawah stope 5-10 m di atas drift pengangkutan.
• Raise dari level pengangkutan melalui undercut ke level utama untuk menyediakan akses dan ventilasi ke stope.
Keuntungan metode Shrinkage stoping
• Investasi yang kecil terhadap alat-alat/mesin-masin karena membutuhkan sedikit alat-alat.
• Ore dapat langsung didumping secara langsung ke alat angkut melalui chute.
• Mengeliminasi hand-loading.
• Dapat langsung berproduksi
• Mining Recovery tinggi.
Kerugian :
• Kondisi kerja sulit dan berbahaya.
Contoh : Mouska Mine, Canada; Schwartzwalder Mine, Colorado
d. Sub level stoping
Sub level stoping adalah sistem dimana dibuat sublevel-sublevel dengan jarak tertentu. Pada metode ini, blok bijih dibagi sepanjang jurus cebakan, dan diantara 2 buah stope yang terbentuk dipisahkan oleh pillar. Ketinggian stope dibatasi oleh kekuatan batuan dan lebar stope yang kadang-kadang mencapai 500 feet.
Sub level stoping termasuk kedalam penyanggaan yang dilakukan secara overhand. Dengan menggunakan pillar buatan dari waste rock dan stull timber yang menyanggan dan melintang pada Sub level stoping dipasang pada geometri yang sistematis.berfungsi sebagai berpijak pekerja dan sebagai peluncur bijih, membentuk corong dan manway lining, dan sebagai penyangga lekat.

Kesimpulan :
Tambang bawah tanah adalah segala aktifitas penambangannya tidak berhubungan langsung dengan udara luar. Dan pada tambang bawah tanah terdapat istilah Unsupported Methods yaitu suatu metode penambangan bukaan tanpa penyangga dalam artian suatu metoda yang tidak menggunakan timber atau filling dalam menyangga dinding, baik hanging wall maupun footwall. Penyanggaan pada dinding dilakukan dengan pilar-pilar dan baut batuan digunakan untuk penyanggaan local.
Metode ini dapat diklasifikasikan dalam 4 kelompok yaitu:
1. Room and pillar mining
2. Stope and pillar mining
3. Shrinkage stoping
4. Sub level stoping

ArcGIS

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebelum membahas permasalahan teknis system informasi geografis (SIG) lebih dalam, ada baiknya bila terlebih dahulu memahami makna, manfaat, dan peran sig dalam penyelesaian permasalahan. Siapakah yang sebenarnya yang dapat terbantu oleh adanya teknologi SIG ini? Apa kelebihan-kelebihan yang diperoleh dengan menguasai teknologi SIG? bagaimana operasionalisasi dan dan teknologi tersebut agar mendapatkan hasil yang efektif dan efisien? Pertanyaan –pertanyaan itulah kiranya yang dapat menjadi dasar pemahaman dalam usaha penguasaan teknologi SIG. Penggunaan Sistem Informasi Geografis meningkat tajam sejak tahun 1980-an peningkatan ini terjadi pada kalangan militer, pemerintah, akademis, atau bisnis terutama di Negara-negara maju. Hal ini dikarenakan teknologi SIG banyak mendasarkan pada teknologi digital ini sebagai alat analisis. Seperti tergambar dari namanya, SIG merupakan sebuah system yang saling berangkaian satu dengan yang lain. BAKOSURTANAL menjabarkan SIG sebagai kumpulan yang terorganisir dari perangkat keras computer, perangkat lunak (software pendukung), data geografi, dan personil yang didesain untuk memperoleh, menyimpan, memperbaiki, memanipulasi, menganalisis, dan menampilkan semua bentuk informasi yang bereferensi geografi. Dengan demikian, basis analisis dari SIG adalah data spasial dalam bentuk digital yang diperoleh melalui data satelit atau data lain terdigitasi.


1.2 Tujuan
a. Untuk mengetahui proses pengolahan data secara manual dengan pengoperasian dengan menggunakan software ArcGIS 9.2/9..
b. Menganalisis bentang alam Kec. Polombangkeng Utara Kab. Takalar Dati II Provinsi Sulawesi selatan.

1.3 Ruang Lingkup
Mengetahui proses Registrasi Image, Digitasi, Analisis, dan Layout hasil peta vektor.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
SIG mulai dikenal pada awal 1980-an. Sejalan dengan berkembangnya perangkat komputer, baik perangkat lunak maupun perangkat keras, SIG berkembang sangat pesat pada era 1990-an. Secara harafiah, SIG dapat diartikan sebagai :

”suatu komponen yang terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, data geografis dan sumberdaya manusia yang bekerja bersama secara efektif untuk menangkap, menyimpan, memperbaiki, memperbaharui, mengelola, memanipulasi, mengintegrasikan, menganalisa, dan menampilkan data dalam suatu informasi berbasis geografis”

Informasi spasial memakai lokasi, dalam suatu sistem koordinat tertentu, sebagai dasar referensinya. Karenanya SIG mempunyai kemampuan untuk menghubungkan berbagai data pada suatu titik tertentu di bumi, menggabungkannya, menganalisa dan akhirnya memetakan hasilnya. Aplikasi SIG menjawab beberapa pertanyaan seperti: lokasi, kondisi, trend, pola, dan pemodelan. Kemampuan inilah yang membedakan SIG dari sistem informasi lainnya.
Dilihat dari definisinya, SIG adalah suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang tidak dapat berdiri sendiri-sendiri. Memiliki perangkat keras komputer beserta dengan perangkat lunaknya belum berarti bahwa kita sudah memiliki SIG apabila data geografis dan sumber daya manusia yang mengoperasikannya belum ada. Sebagaimana sistem komputer pada umumnya, SIG hanyalah sebuah ‘alat yang mempunyai kemampuan khusus. Kemampuan sumberdaya manusia untuk memformulasikan persoalan dan menganalisa hasil akhir sangat berperan dalam keberhasilan sistem SIG.

Data spasial
Data spasial mempunyai dua bagian penting yang membuatnya berbeda dari data lain, yaitu informasi lokasi dan informasi atribut yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
• Informasi lokasi atau informasi spasial. Contoh yang umum adalah informasi lintang dan bujur, termasuk diantaranya informasi datum dan proyeksi. Contoh lain dari informasi spasial yang bisa digunakan untuk mengidentifikasikan lokasi misalnya adalah Kode Pos.
• Informasi deskriptif (atribut) atau informasi non spasial. Suatu lokalitas bisa mempunyai beberapa atribut atau properti yang berkaitan dengannya; contohnya jenis vegetasi, populasi, pendapatan pertahun, dsb.

Sistem Koordinat
Informasi lokasi ditentukan berdasarkan sistem koordinat, yang di antaranya mencakup datum dan proyeksi peta. Datum adalah kumpulan parameter dan titik kontrol yang hubungan geometriknya diketahui, baik melalui pengukuran atau penghitungan. Sedangkan sistem proyeksi peta adalah sistem yang dirancang untuk merepresentasikan permukaan dari suatu bidang lengkung atau spheroid (misalnya bumi) pada suatu bidang datar. Proses representasi ini menyebabkan distorsi yang perlu diperhitungkan untuk memperoleh ketelitian beberapa macam properti, seperti jarak, sudut, atau luasan.

Format data spasial
Dalam SIG, data spasial dapat direpresentasikan dalam dua format, yaitu:
1. Vektor
Dalam data format vektor, bumi kita direpresentasikan sebagai suatu mosaik dari garis (arc/line), polygon (daerah yang dibatasi oleh garis yang berawal dan berakhir pada titik yang sama), titik/point (node yang mempunyai label), dan nodes (merupakan titik perpotongan antara dua buah garis).
2. Raster
Data raster (atau disebut juga dengan sel grid) adalah data yang dihasilkan dari sistem Penginderaan Jauh. Pada data raster, obyek geografis direpresentasikan sebagai struktur sel grid yang disebut dengan pixel (picture element). Pada data raster, resolusi (definisi visual) tergantung pada ukuran pixel-nya. Dengan kata lain, resolusi pixel menggambarkan ukuran sebenarnya di permukaan bumi yang diwakili oleh setiap pixel pada citra. Semakin kecil ukuran permukaan bumi yang direpresentasikan oleh satu sel, semakin tinggi resolusinya. Data raster sangat baik untuk merepresentasikan batas-batas yang berubah secara gradual, seperti jenis tanah, kelembaban tanah, vegetasi, suhu tanah, dsb. Keterbatasan utama dari data raster adalah besarnya ukuran file; semakin tinggi resolusi grid-nya semakin besar pula ukuran filenya. Keuntungan utama dari format data vektor adalah ketepatan dalam merepresentasikan fitur titik, batasan dan garis lurus. Hal ini sangat berguna untuk analisa yang membutuhkan ketepatan posisi, misalnya pada basisdata batas-batas kadaster. Contoh penggunaan lainnya adalah untuk mendefinisikan hubungan spasial dari beberapa fitur. Kelemahan data vektor yang utama adalah ketidakmampuannya dalam mengakomodasi perubahan gradual.

Masing-masing format data mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pemilihan format data yang digunakan sangat tergantung pada tujuan penggunaan, data yang tersedia, volume data yang dihasilkan, ketelitian yang diinginkan, serta kemudahan dalam analisa. Data vektor relatif lebih ekonomis dalam hal ukuran file dan presisi dalam lokasi, tetapi sangat sulit untuk digunakan alam komputasi matematik. Sebaliknya, data raster biasanya membutuhkan ruang penyimpanan file yang lebih besar dan presisi lokasinya lebih rendah, tetapi lebih mudah digunakan secara matematis.
Sumber data spasial
Sebagaimana telah kita ketahui, SIG membutuhkan masukan data yang bersifat spasial maupun deskriptif. Beberapa sumber data tersebut antara lain adalah:
1. Peta analog (antara lain peta topografi, peta tanah, dsb.). Peta analog adalah peta dalam bentuk cetakan. Pada umumnya peta analog dibuat dengan teknik kartografi, sehingga sudah mempunyai referensi spasial seperti koordinat, skala, arah mata angin dsb. Peta analog dikonversi menjadi peta digital dengan berbagai cara yang akan dibahas pada bab selanjutnya. Referensi spasial dari peta analog memberikan koordinat sebenarnya di permukaan bumi pada peta digital yang dihasilkan. Biasanya peta analog direpresentasikan dalam format vektor.
2. Data dari sistem Penginderaan Jauh (antara lain citra satelit, foto-udara, dsb.) Data Pengindraan Jauh dapat dikatakan sebagai sumber data yang terpenting bagi SIG karena ketersediaanya secara berkala. Dengan adanya bermacam-macam satelit di ruang angkasa denganspesifikasinya masing-masing, kita bisa menerima berbagai jenis citra satelit untuk beragam tujuan pemakaian. Data ini biasanya direpresentasikan dalam format raster.
3. Data hasil pengukuran lapangan. Contoh data hasil pengukuran lapang adalah data batas administrasi, batas kepemilikan lahan, batas persil, batas hak pengusahaan hutan, dsb., yang dihasilkan berdasarkan teknik perhitungan tersendiri. Pada umumnya data ini merupakan sumber data atribut.
4. Data GPS. Teknologi GPS memberikan terobosan penting dalam menyediakan data bagi SIG. Keakuratan pengukuran GPS semakin tinggi dengan berkembangnya teknologi. Data ini biasanya direpresentasikan dalam format vektor.

Sistem Pemasukan Data
Pada bagian ini kita akan mempelajari teknik memasukkan data spasial dari sumber-sumber di atas ke dalam SIG, antara lain:
1. Digitasi
2. Penggunaan GPS
3. Konversi dari sistem lain

Sistem Informasi Geografis (SIG) / Geographic Information System (GIS) adalah suatu sistem informasi berbasis komputer, yang digunakan untuk memproses data spasial yang ber-georeferensi (berupa detail, fakta, kondisi, dsb) yang disimpan dalam suatu basis data dan berhubungan dengan persoalan serta keadaan dunia nyata (real world). Manfaat SIG secara umum memberikan informasi yang mendekati kondisi dunia nyata, memprediksi suatu hasil dan perencanaan strategis.
Secara umum SIG bekerja berdasarkan integrasi 5 Komponen, yaitu: Hardware, software, data, manusia dan metode.
A. Hardware
SIG membutuhkan hardware atau perangkat komputer yang memiliki spesifikasi lebih tinggi dibandingkan dengan sistem informasi lainnya untuk menjalankan software-software SIG, seperti kapasitas Memory (RAM), Hard-disk, Prosesor serta VGA Card. Hal tersebut disebabkan karena data-data yang digunakan dalam SIG baik data vektor maupun data raster penyimpanannya membutuhkan ruang yang besar dan dalam proses analisanya membutuhkan memory yang besar dan prosesor yang cepat.
B. Software
Sebuah software SIG haruslah menyediakan fungsi dan tool yang mampu melakukan penyimpanan data, analisis dan menampilkan informasi geografis. Dengan demikian elemen yang harus terdapat dalam komponen software SIG adalah:
a. Tools untuk melakukan input dan transformasi data geografis
b. Sistem manajemen basis data
c. Tool yang mendukung query geografis, analisis dan visualisasi
d. Graphical User Interface (GUI) untuk memudahkan akses pada tool geografi
C. Data
Hal yang merupakan komponen penting dalam SIG adalah data. Secara fundamental SIG bekerja dengan dua tipe model data geografis yaitu model data vektor dan model data raster.
Proses Sistem Informasi Geografis

Sebelum data geografi digunakan dalam SIG, data tersebut harus dikonversi kedalam format digital. Proses tersebut dinamakan digitasi. Proses digitasi memerlukan sebuah hardware tambahan yaitu sebuah digitizer kengkap dengan mejanya. Untuk mendigitasi peta harus dilekatkan pada peta digitasi titik dan garis ditelusuri dengan kursor digitasi atau keypad. Digitasi ini memerlukan software tertentu seperti ARC/INFO Autocad, MapInfo atau software lain yang dapat mensupport proses digitasi tersebut. Untuk SIG dengan teknologi yang lebih modern, proses konversi data dapat dilakukan dengan menggunakan te knologi scanning. Tipe data yang digunakan dalam SIG mungkin perlu ditransformasi atau dimanipulasi dengan beberapa cara agar sesuai dengan sistem. Misalnya terdapat perbedaan dalam skala, sehingga sebelum dimasukkan dan diintegrasikan harus ditransformasikan dahulu kedalam skala yang sama. Transformasi ini bisa bersifat sementara untuk ditampilkan saja atau secara permanen untuk proses analisis. Transformasi juga berlaku untuk system koordinat yang digunakan. Tahapan selanjutnya adalah editing merupakan tahap koreksi atas hasil digitasi. Koreksi tersebut dapat berupa penambahan atau pengurangan arc atau feature yaitu dengan mengedit arc yang berlebih (overshoot) atau menambahkan arc yang kurang (undershoot). Editing juga dilakukan untuk menambahkan arc secara manual seperti membuat polygon, line maupun point. Setelah data keruangan dimasukkan maka proses selanjutnya beralih ke pengelolaan data – data deskrptif , dalam hal ini meliputi annotasi (pemberian tulisan pada coverage), labelling (pemberian informasi pada peta bersangkutan) , dan attributing yaitu tahap dimana setiap Label ID hasil proses labelling diberi tambahan atribut yang dapat memberikan sejumlah informasi tentang poligon atau arc yang diwakilinya. Dalam proyek SIG yang kecil informasi geografi cukup disimpan sebagai file-file – file komputer. Akan tetapi, jika volume data dan jumlah pemakai data besar, langkah terbaik yang harus digunakan adalah dengan DBMS.
Query pada SIG pada dasarnya juga merupakan proses analisis tetapi dilakukan secara proses tabular. Secara fundamental Analisis pada SIG menggunakan analisis spasial. SIG memiliki banyak kelebihan dalam analisis spasial , tetapi dua hal yang paling penting yaitu :
a. Analisis Proximity, Analisis proximity merupakan analisis geografis yang berbasis pada jarak antar layer. Dalam analisis proximity SIG menggunakan proses yang disebut buffering (membangun lapisan pendukung disekitar layer dalam jarak tertentu) untuk menetukan dekatnya hubungan antar sifat bagian yang ada.
b. Analisis Overlay, Proses integrasi data dari lapisan layer-layer yang berbeda disebut overlay. Secara sederhana, hal ini dapat disebut operasi visual, tetapi operasi ini secaraanalisa membutuhkan lebih dari satu layer untuk dijoin secara fisik. Sebagai contoh overlay atau spasial join yaitu integrasi antara data tanah, lereng dan vegetasi, atau kepemilikan lahan dengan nilai taksiran pajak bumi.


BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan digunakan saat pengolahan peta analog menjadi peta vector antara lain :
1. Seperangkat komputer desktop/laptop
2. Software ArcGIS 9.3
3. Peta analog Kec. Polombangkeng Utara Kab. Takalar Prop. Sulawesi Selatan meliputi :
a. Peta geologi
b. Peta pengolahan lahan
c. Peta jenis tanah
d. Peta Lereng

3.2 Prosedur Pengolahan Data
Proses pendigitasian peta analog meliputi :
1) Pemasukan Peta Analog
1. Buka Program ArcGIS/ArcMAP
2. Lihat pada toolbar standar, buka klik add data cari file yang akan didigitasi dalam bentuk peta raster.

2) Penyesuaian Koordinat Bumi Latlon (Latitude Longitude)
1. Setelah terbuka klik kanan pada bidang layer pilih data frame properties
2. Perhatikan coordinat system pilih predifined/geographic coordinate system/world/WGS 1984

3) Proses Rektifikasi Peta Ke Koordinat Bumi (1)
1. Mengaktifkan toolbar georeferensing
2. Pastikan layer aktif pada peta yang akan direktifikasi, kemudian klik add control point pada toolbar georeferencing, selanjutnya pilih titik pertemuan x dan y yang mewakili peta tersebut dengan cara klik kiri kemudian klik kanan pilih input x and y.
3. Proses pemasukan nilai x dan y melalui beberapa tahap perhitungan, karena daerah yang akan didigitasi masuk pada daerah selatan maka nilai y adalah minus.
4. Adapun rumus perhitungan derajat, menit, dan detik diubah menjadi derajat desimal yaitu DD = (Seconds/3600) + (Minutes/60) + Degrees.
4) Proses Rektifikasi Peta Ke Koordinat Bumi (2)
Setelah memasukkan nilai x dan y pada ke empat titik maka lngkah selanjutnya adalah:
1. Mengaktifkan toolbar georeferencing
2. pilih georeferencing klik rectify....
3. Masukkan nama file bertipe .img yang sudah di rektifikasi perhatikan alamat folder yang telah disediakan kemudian tekan save maka secara otomatis peta yang sudah di rektifikasi akan sama dengan koordinat bumi yang sesungguhnya.

5) Proses Pendigitasian Polyline, Point, dan Polygon
Pada proses pendigitasian terdapat beberapa metode yaitu metode digitizer menggunakan hardware, sedangkan metode digitasi onscreen pada layar komputer adalah metode secara manual dengan cara membuat digitasi. Pada proses pendigitasian yang dilakukan ada tiga hal :
Proses pendigitasian :
1. Buka add data pilih peta yang telah direkftikasi dalam bentuk .img
2. Aktifkan toolbar editor
3. Pada toolbar standar, klik icon arcCatalog kemudian tempatkan shapefile pada folder yang sama dengan file yang telah di rektifikasikan.
4. Pada layer di arcCatalog klik kanan pilih new kemudian klik shapefile pilih ketik nama file pilih point pada feature type untuk digitasi point, pilih polyline pada feature type untuk digitasi garis atau line, kemudian pilih polygon untuk digitasi suatu wilayah klik ok.
5. Setelah salah selesai pendigitasian klik 2 kali kemudian cari editor klik save edit kemudian stop editing.
6) Proses Penggabungan Hasil Pendigitasian
Setelah proses pendigitasian, semua jenis layer yang bertipe polyline dan polygon dengan cara mengaktifkan arcToolbox pada toobars standar pilih data management tools pilih feature pilih dengan cara klik 2 kali feature to polygon kemudian masukkan pada input feature hasil pendigitasian yang akan digabungkan menjadi sebuah polygon klik ok.
7) Proses Pemberian Batas Nama Wilayah (Koding)
Selanjutnya, proses yang dilakukan adalah memberikan kode atau nama wilayah dengan cara :
a. Klik kanan layer pada table of content hasil penggabungan tadi kemudian pilih open attribute table kemudian akan tampil layar berikut :
b. Selanjutnya tambahkan kolom atribut dengan cara menonaktifkan proses editing, kemudian klik option add field….
c. Maka akan tampil layar seperti di bawah ketik name field (keterangan) kemudian pilih text pada tipe ketik jumlah karakter angka yang digunakan nantinya klik ok.
d. Setelah itu, aktifkan editing pada toolbars klik kanan wilayah yang akan diberikan kode atau nama wilayah maka akan tampil.
e. Pada table attributes masukkan nama suatu wilayah pada kolom yang telah dibuat. Begitu pula wilayah selanjutnya.

8) Pembedaan Warna atau Pengklasifikasian Warna Wilayah
Setelah proses pemberian batas nama wilayah (koding), maka yang dilakukan selanjutnya adalah pemberian warna pada daerah yang telah diberikan kode atau nama wilayah dengan cara klik kanan layer yang akan dikerjakan pilih properties, pilih symbology, kemudian pilih categories unique values ubah value field pilih kolom yang telah di kode atau telah diberikan nama wilayah, selanjutnya pilih add values aktifkan semua values kemudian klik ok dan ok.
9) Proses layout
Selanjutnya proses layout yaitu membuat hasil akhir peta dalam bentuk suatu cetakan yaitu :
a. Aktifkan toolbar layout view
b. Kemudian klik kanan layer gambar peta pilih grid untuk menentukan/membuat titik koordinat
c. Untuk membuat editan layout klik insert kemudian pilih legenda, skala, text, arah orientasi, dan lain-lain sehingga menghasilkan sebuah peta.


BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Pembahasan
Pada pengolahan data raster pada empat digunakan 4 peta analog yaitu :
1. Peta geologi
2. Peta penggunaan lahan
3. Peta kemiringan
4. Peta jenis tanah
Tidak banyak diketemukan masalah tentang pengolahan data, hanya pada saat merektifikasi salah satu peta terdapat kesalahan memasukkan nilai x dan nilai y. Sehingga nilai x dan y yang telah plot menghasilkan gambar peta analog terbalik. Adapun proses pengolahan yang dilakukan antara lain :
1. Registrasi image
2. Rektifikasi image ke koordinat bumi
3. Digitasi image
4. Pengelolaan attribut fitur
5. Layout
Adapun masalah yang dihadapi saat pengeditan peta merupakan kesalahan fasilitaskomputer/laptop yang kurang memadai dengan software ArcGIS 9.3.


BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pada pengolahan data rester digunakan 4 peta analog yaitu : Peta geologi peta penggunaan lahan, peta kemiringan dan peta jenis tanah. Pada praktek pengolahan data rester ini dugunakan software ArcGIS 9.2/9.., peta sasaran adalah Kec. Polombangkeng Utara Kab. Takalar Dati II Provinsi Sulawesi selatan
Pengelolaan data rester mencakup registrasi image, rektifikasi image ke koordinat bumi, digitasi image, pengelolaan attribut fitur dan Layout. Hasil analisis bentang alam Kec. Polombangkeng Utara Kab. Takalar Dati II Provinsi Sulawesi selatan.
5.2 Saran
Hal yang menjadi sedikit kedala dalam matakuliah ini adalah kurangnya pemahaman mahasiswa terhadap software yang digunakan, kendala tersebut kiranya dapat dicarikan solusi sehingga kedepannya hal tersebut bukan lagi masalah.
Kami juga berharap agar dalam pengadaan peta oleh mahasiswa telah diberikan jalur sehingga peta yang diharapkan dapat diperoleh dengan cepat dan tepat.


DAFTAR PUSTAKA

Automasi Data_2 Dijitasi peta / Sudomo Ostip, S.Si – PT. Duta Informatika.
Darwis.ES, dkk 1991; Laporan Penyelidikan Geologi Terpadu Untuk Pengembangan Wilayah Daerah Kab. Takalar Sul.Sel.
Darwi ES.dkk, 1993; Laporan Penyelidikan Geologi Terpadu Untuk Pengembangan Wilayah Daerah Kab. Gowa. Kanwil DPE. Sul.Sel.
EF_ArcMap_Final; Marine & Coastal Resources Management Project (project B) :YPL/5/20/2005 11:38:00 AM.
Kusbini, 2001; Laporan Eksplorasi dan Optimalisasi Pemanfaatan Zeolit Untuk. Industri. Sub. Dinas Pertamb. Umum. DPE.Sul.Sel.
http://mailto:inbox@ inigis.info/
Membaca dan memanfaatkan peta topografi by geo adventure-geografi UI.
Modul Pelatihan ArcGis.
GIS Konsorsium Aceh Nias; Aceh_Nias_GIS@yahoogroups.com

TEORI PEMBENTUKAN BUMI DAN AIR DI BUMI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Ketika manusia pertama kali menginjakkan kakinya di bulan, Desember 1968, planet bumi dapat dilihat dari kejauhan di ruang angkasa. Dari tempat tersebut bumi terlihat sebagai benda angkasa kecil yang berbentuk elips, yang muncul seperti benda yang rapuh dalam kekelaman ruang angkasa yang sangat luas tanpa batas. Kenampakan yang sangat sederhana tetapi menarik, dan spektakuler ini memperlihatkan kepada kita bahwa alangkah kecilnya planet bumi di alam semesta ini, apalagi kita yang hidup pada permukaan bumi.
Jika dilihat lebih dekat, yang terlihat pada bumi bukanlah daratannya, tetapi awan yang berputar yang tersuspensi di permukaannya, dan lautan yang sangat luas. Dari hal tersebut dapatlah diketahui lingkungan fisik bumi dapat dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu lapisan udara yang disebut atmosfer, lapisan air yang disebut hidrosfer dan tentunya bumi itu sendiri yang padat. Bumi merupakan sebuah planet yang sangat dinamis yang tidak hanya disusun oleh batuan, air, dan udara saja, melainkan dicirikan oleh interaksi yang terus-menerus pada saat udara melakukan kontak dengan batuan, batuan dengan air, dan air dengan udara.
Oleh karena itu, untuk lebih bisa mengetahui apa yang menjadi faktor dari penyusun bumi dan bagaimana pengaruhnya terhadap proses pembentukan bumi dan pembentukan air di bumi, maka diperlukan sebuah indikator yang bisa menunjang proses pembelajaran materi tersebut.

1.2 Rumusan Masalah
Pada penyusunan makalah ini terdapat beberapa masalah yang mungkin bisa lebih membantu penyusunan makalah ini dan mempermudah memahami isi makalah ini. Rumusan dari masalah yang akan dibahas tersebut diantaranya:
a. Apa pengertian bumi dan air?
b. Bagaimana teori terbentuknya bumi?
c. Bagaimana teori terbentuknya air di bumi?

1.3 Maksud dan Tujuan
Penyusunan makalah ini merupakan sebuah bentuk pengaplikasian dari bagian proses pembelajaran yang cukup kompleks tentang bumi, air, dan pembentukannya. Untuk memperjelas bentuk pengaplikasian tersebut, maka dapat dirumuskan sebuah maksud dan tujuan dari penyusunan makalah ini. Maksud dan tujuan tersebut adalah:
a. Mengetahui pengertian bumi dan air.
b. Mengidentifikasi teori pembentukan bumi.
c. Mengidentifikasi teori pembentukan air di bumi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Bumi dan Air
a. Pengertian Bumi
Bumi adalah planet ketiga dari delapan planet yang mengitari matahari dalam Tata Surya yang jaraknya tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh dengan matahari sehingga suhu udaranya memungkinkan adanya air yang melimpah. Akibatnya, planet ini merupakan satu-satunya yang sampai sekarang memiliki kehidupan di dalamnya. Planet Bumi terbentuk bersamaan dan sangat berhubungan dengan Pembentukan Tata Surya dan Galaksi.
Menurut para ahli astronomi, Galaksi terbentuk melalui sebuah ledakan yang besar. Teori ini berdasarkan pada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa selain berputar pada porosnya, galaksi-galaksi juga bergerak saling menjauhi. Hal ini mengasumsikan bahwa dahulu galaksi tersebut saling berdekatan dan berawal dari suatu gumpalan yang kemudian diperkirakan meledak 15 milyar tahun yang lalu, menyebabkan energi tersebar dan kemudian galaksi-galaksi terbentuk dan bergerak tersebar seperti saat ini. Teori ini disebut Teori Big Bang.
b. Pengertian Air
Air merupakan suatu benda cair yang menjadi faktor utama penentu kehiduupan atau dalam kata lain disebutkan bahwa air merupakan suatu unsur utama penunjang kehidupan. Jumlah air di bumi sangat besar, kira-kira 1,36 milyar km3. Dari jumlah tersebut sekitar 97,20% merupakan air yang berada di laut, 2,15% berupa es dan salju, sedang sisanya yang 0,65% merupakan air yang terdapat di danau, sungai, atmosfer, dan air tanah. Meskipun persentase air dari bagian yang terakhir ini sangat kecil, tetapi jumlahnya relative sangat besar untuk dapat merubah bentuk-bentuk permukaan bumi.
Sirkulasi air di bumi yang tiada putusnya disebut daur atau siklus hidrologi. Daur ini merupakan pancaran sistem energy matahari dan atmosfer, dan merupakan rantai yang menghubungkan lautan dan daratan. Air dari laut secara tetap mengalami penguapan menjadi uap air yang berada di atmosfer. Di atmosfer uap air akan terkumpul dan membentuk awan. Apabila awan ini sudah jenuh maka uap air akan berubah menjadi titik-titik air yang jatuh ke permukaan bumi sebagai hujan.

2.2 Teori Pembentukan Bumi
Bumi diperkirakan mulai terbentuk ketika butir-butir debu dalam cakram atau cincin awan di sekitar matahari mulai saling melekat. Partikel-partikel ini menggumpal menjadi badan yang lebih besar yang kemudian bertabrakan dan membentuk benda-benda berukuran planet.
Sisa-sisa dari awan asli berjatuhan ke bumi yang masih muda itu. Energi dari bahan yang jatuh ini, bersama dengan pemanasan yang terjadi akibat pelapukan radioaktif, menyebabkan melelehnya bumi. Akibatnya bahan-bahan yang mampat seperti besi dan Nikel tenggelam ke pusat dan membentuk inti bumi. Seluruh permukaan bumi tertutup oleh lautan batuan yang meleleh. Bahan-bahan yang lebih ringan seperti uap air dan karbon dioksida beralih ke luar dan membentuk atmosfer purba.
Angin matahari menyapu bersih sisa-sisa awan asli dari Tata Surya sehingga benturannya ke bumi menjadi berkurang. Planet Bumi mendingin dan uap air membentuk awan tebal di atmosfer.
Kemudian awan pun mendingin, uap airnya mengembun, dan hujan deras membanjiri bumi dan mendinginkan batuan di permukaan bumi. Limpahan air tersebut mengumpul di tempat yang rendah sehingga terjadilah awal samudera di dunia. Karbon dioksida dari udara mulai larut dalam genangan luas ini sehingga planet ini makin dingin lagi. Kira-kira 2.5 miliar tahun yang lalu, sebuah bumi yang biru telah muncul. Awan menghilang dan matahari bersinar terang seperti adanya sekarang.
Untuk menunjang teori pembentukan bumi, diperlukan juga teori penunjang lainnya yang bisa mempermudah memahami pembentukan bumi tersebut. Dan salah satu teori penunjang tersebut adalah teori pembentukan Tata Surya. Beberapa Teori Pembentukan Tata Surya, antara lain :
1. Teori Planetesimal,oleh Chamberlin dan Moulton.
Menurut teori ini, sekitar 4,6 miliyar tahun yang lalu di ruang angkasa terdapat awan gas dan debu yang mengapung mulai mengecil dan materi pada pusat awan itu mengumpul menjadi matahari. Sisanya memipih menjadi awan berbentuk cakram di sekitar matahari itu. Selama kira-kira 100 juta tahun, butir-butir debu dalam awan itu saling melekat membentuk planet yang sangat kecil dengan diameter hanya beberapa kilometer (planetesimal). Kemudian saling bertabrakan dan bergabung membentuk planet-planet.
2. Teori Komet Bufon
Tahun 1745, George comte de Buffon (1701-1788) dari Perancis mempostulatkan teori dualistik dan katastrofi yang menyatakan bahwa tabrakan komet dengan permukaan matahari menyebabkan materi matahari terlontar dan membentuk planet pada jarak yang berbeda.
3. Teori Nebula laplace, oleh Kant-Laplace.
Awan gas dan debu yang ada di alam semesta berkontraksi dibawah pengaruh gravitasi. Kemudian awan tesrebut berputar pelan dan mengalami keruntuhan akibat gravitasi. Pada saat keruntuhan, momentum sudut dipertahankan melalui putaran yang dipercepat sehingga terjadi pemipihan. Selama kontraksi ada materi yang tertinggal dalam bentuk piringan sementara pusat massa terus berkontraksi. Materi yang terlepas dalam piringan akan membentuk sejumlah cincin dan materi di dalam cincin akan mengelompok akibat adanya gravitasi. Kondensasi juga terjadi di setiap cincin yang menyebabkan terbentuknya sistem planet. Materi di dalam awan yang runtuh dan memiliki massa dominan akan membentuk matahari.
4. Teori Pasang Surut Jeans
Astronomi Inggris, James Jeans (1877-1946) mengemukakan Tata Surya merupakan hasil interaksi antara bintang lain dan matahari. Menurut Jeans dalam interaksi antara matahari dengan bintang lain yang melewatinya, pasang surut yang ditimbulkan pada matahari sangat besar sehingga ada materi yang terlepas dalam bentuk filamen. Filamen ini tidak stabil dan pecah menjadi gumpalan-gumpalan yang kemudian membentuk proto planet. Akibat pengaruh gravitasi dari bintang, proto planet memiliki momentum sudut yang cukup untuk masuk kedalam orbit disekitar matahari. Pada akhirnya efek pasang surut matahari pada proto planet saat pertama kali melewati perihelion memberikan kemungkinan bagi proses pembentukan planet untuk membentuk satelit. Ia menyatakan bahwa saat pertemuan kedua bintang terjadi, radius matahari sama dengan orbit Neptunus. Pengubahan ini memperlihatkan kemudahan untuk melontarkan materi pada jarak yang dikehendaki. Materinya juga cukup dingin, dengan temperatur 20 K dan massa sekitar ½ massa jupiter.
Dari beberapa teori yang dikemukakan oleh para ahli astronomi tersebut, teori nebula laplace dan teori planetesimal-lah yang dapat diterima sampai sekarang.

2.3 Teori Pembentukan Air di Bumi
Dari manakah air yang membentuk lautan di Bumi itu berasal? Para ahli memiliki beberapa versi tentang hal itu. Salah satu versi yang cukup terkenal adalah bahwa pada saat itu Bumi mulai mendingin akibat mulai berkurangnya aktivitas vulkanik, disamping itu atmosfer bumi pada saat itu tertutup oleh debu-debu vulkanik yang mengakibatkan terhalangnya sinar Matahari untuk masuk ke Bumi. Akibatnya, uap air di atmosfer mulai terkondensasi dan terbentuklah hujan. Hujan inilah yang mengisi cekungan-cekungan di Bumi hingga terbentuklah lautan. Secara perlahan-lahan, jumlah karbon dioksida yang ada diatmosfer mulai berkurang akibat terlarut dalam air laut dan bereaksi dengan ion karbonat membentuk kalsium karbonat. Akibatnya, langit mulai menjadi cerah sehingga sinar Matahari dapat kembali masuk menyinari Bumi dan mengakibatkan terjadinya proses penguapan sehingga volume air laut di Bumi juga mengalami pengurangan dan bagian-bagian di Bumi yang awalnya terendam air mulai kering. Proses pelapukan batuan terus berlanjut akibat hujan yang terjadi dan terbawa ke lautan, menyebabkan air laut semakin asin.
Pada 3,8 milyar tahun yang lalu, planet Bumi mulai terlihat biru karena laut yang sudah terbentuk tersebut. Suhu Bumi semakin dingin karena air di laut berperan dalam menyerap energi panas yang ada, namun pada saat itu diperkirakan belum ada bentuk kehidupan di Bumi. Kehidupan di Bumi, menurut para ahli, berawal dari lautan (life begin in the ocean). Namun demikian, masih merupakan perdebatan hangat hingga saat ini, kapan tepatnya kehidupan awal itu terjadi dan di bagian lautan yang mana? apakah di dasar laut ataukah di permukaan? Hasil penemuan geologis di tahun 1971 pada bebatuan di Afrika Selatan (yang diperkirakan berusia 3,2 s.d. 4 milyar tahun) menunjukkan adanya fosil seukuran beras dari bakteri primitif yang diperkirakan hidup di dalam lumpur mendidih di dasar laut.
Teori lain juga mengemukakan bahwa Bumi terbentuk dengan sedikit sekali air, atau tanpa air sama sekali. Air di Bumi berasal dari komet yang terkenal punya es beku di kepalanya dan dari beberapa asteroid yang mengandung air (hydrous asteroids). Kuiper Belt di sebelah luar orbit Neptunus, atau Awan Oort di tepi Tata Surya terkenal sebagai rumah para komet dan benda angkasa lainnya yang mengandung air yang rajin mengunjungi Bumi pada saat-saat awal pembentukannya.
Air dibawa ke Bumi diperkirakan 4 milyar tahun yang lalu melalui intense bombardment of the inner solar system. Semua planet dalam Tata surya mengalami bombardemen seru di periode ini. Antara lain, peristiwa yang di astronomi disebut lunar cataclysm, periode ketika Bulan begitu di-bombardemen sehingga permukaannya penuh impact craters seperti sekarang. Bumi menurut perhitungan punya rasio 13 – 500 kali untuk di-bombardemen daripada Bulan. Bumi juga punya critical mass yang lebih besar yang dapat menahan air (es sebenarnya) dari menguap. Bulan, karena gravitasinya lebih kecil, sebagian besar air bekunya menguap ke angkasa raya.
Komet-komet ini juga membombardemen planet-planet raksasa gas macam Yupiter, Saturnus Uranus, dan Neptunus. Diperkirakan di planet-planet ini air beku tadi mengalami semacam inkubasi dan kemudian berubah secara kimiawi menjadi kaya akan gas mulia (helium, neon, argon, krypton, xenon dan radon).
Dengan menggunakan spekstroskopi, para ahli fisika menemukan bahwa semua komet yang dapat diamati mengandung tanda-tanda air. Di Alam Semesta, air terbentuk ketika isotop hidrogen, deuterium, berikatan dengan ion oksigen, membentuk apa yang kita sebut heavy water. Air berat ini (10 % lebih berat dari air yang sehari-hari kita kenal) terlihat dan terasa seperti air normal, tetapi punya titik didih lebih tinggi (101,4 C) dan titik beku lebih tinggi (3,8 C).
Es di dalam komet memerangkap gas-gas mulia juga zat-zat kimia lain semacam silikat, karbon, dan debu antarplanet. Satu molekul menarik yang terikat kepada komet adalah asam amino. Ini adalah building blocks of biogenic activity.
Komet-komet ini berlomba membombardemen Bumi dengan kecepatan 120.000 km per jam bagai peluru Jagat Raya, membom Bumi sekaligus memberikan "chemical gifts" berupa air dan unsur-unsur kehidupan di dalamnya yang dalam semilyar tahun berikutnya setelah Bumi mengalami diferensiasi magmatik hadiah kimiawi ini berubah menjadi lautan dengan tanda-tanda kehidupan mulai muncul di dalamnya.
Dalam pandangan ini, memang komet adalah agen "the miracle of seeding water and biological life on Earth".
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang bisa diambil dari makalah Tektonofisik tentang Teori Pembentukan Bumi dan Air di Bumi ini, diantaranya:
a. Bumi adalah planet ketiga dari delapan planet yang mengitari matahari dalam Tata Surya yang jaraknya tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh dengan matahari sehingga suhu udaranya memungkinkan adanya air yang melimpah. Sedangkan air merupakan suatu benda cair yang menjadi faktor utama penentu kehiduupan atau dalam kata lain disebutkan bahwa air merupakan suatu unsur utama penunjang kehidupan.
b. Bumi terbentuk ketika butir-butir debu dalam cakram atau cincin awan di sekitar matahari mulai saling melekat. Partikel-partikel ini menggumpal menjadi badan yang lebih besar yang kemudian bertabrakan dan membentuk benda-benda berukuran planet.
c. Air di Bumi berasal dari komet yang terkenal punya es beku di kepalanya dan dari beberapa asteroid yang mengandung air (hydrous asteroids). Kuiper Belt di sebelah luar orbit Neptunus, atau Awan Oort di tepi Tata Surya terkenal sebagai rumah para komet dan benda angkasa lainnya yang mengandung air yang rajin mengunjungi Bumi pada saat-saat awal pembentukannya.

DAFTAR PUSTAKA

Chezpiere53, 2009. Teori Pembentukan Bumi. http://chezpiere53.wordpress.com/. Diperoleh tanggal 2 November 2009 pukul 12.10 WITA.

Lyneard, 2009. Asal Mula Air di Bumi. http://www.indowebster.web.id/forumdisplay.php?s=e7863ddb16604dc27ad79baef10c1e09&f=89. Diperoleh tanggal 2 November 2009 pukul 12.24 WITA.

Rochmanto, Budi, M. Sc, Ir., 2008. Geologi Fisik. Makassar.

PEMEKARAN LANTAI SAMUDERA (SEA FLOOR SPREADING)

Teori pemekaran lantai samudera (sea floor spreading) sangat berkaitan erat dengan teori tektonik lempeng. Oleh sebab itu, untuk membahas teori pemekaran lantai samudera (sea floor spreading) perlu pengetahuan yang cukup tentang teori tektonik lempeng. Karena teori tektonik lempeng ini dianggap sangat perlu dalam membahas teori pemekaran lantai samudera (sea floor spreading), maka akan dibahas pula teori tektonik lempeng.

Teori Pemekaran Lantai Samudera (Sea Floor Spreading) dan Teori Tektonik Lempeng
Akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20 para ahli geologis mengasumsikan bahwa komponen utama bumi telah berada dalam bentuk yang tetap, dan kebanyakan fitur geologis seperti pegunungan merupakan hasil pergerakan vertikal sepearati yang dijelaskan dalam teori geosinklinal.
Teori plate tektonik berasal dari teori continental drift (hanyutan benua) yang pertama kali dikemukanan oleh Alfed Wegener di tahun 1912 yang menyatakan bahwa benua saat ini pertama kali dibentuk dari sebuah masa daratan besar yang saling menjauhi satu sama lainnya, mengapung diatas inti batuan cair. Tetapi karena tanpa bukti dan perhitungan yang detail maka teori ini masih dikesampingkan (Gross.1990; Davies, 2001). Bukti pertama datang dengan penemuan variabel arah medan magnet dai dalam batu karang yang berasal dari berbagai zaman yang berbeda, dari bukti ini teori Wegener semula dianggap menyimpang mulai dapat diterima. Berdasarkan anomali medan magnetik yang tergambar kan oleh garis paralel simetris saling sebelah menyebelah pada sisi sisi mid ocenic ridge.
Oceanic crust dihasilkan dari proses hanyutan benua, saling menekan kebawah benua (subduksi) di bagian benua yang lain yang merupakan kelanjutan dasar lempeng samudera yang selanjutnya kan disubduksi dan diabsorbsi oleh lapisan panas. Lapisan kuli bumi terdiri dari cairan panas, batuan semi liquid yang mempunyai sirkulasi yang sangat lambat. (Gross, 1990; Davies, 2001; Kenyo and Turcotte, 1987) Ketika bagian yang cair bergerak keatas , aktivitas vulkanik bawah laut terjadi dan lava mengalir keluar dan secara cepat akan menjadi solid di dasar laut dalam tersebar, menyusut sedikit demi sedikit dan menyebar dan akan terdeposit di bagian atas kerak samudera. Di zona subduksi, kerak samudera didorong kebawah benua, secara berangsur-angsur meleleh kembali kedalam mantel. Di dalam proses sedimen juga akan ditarik ke bawah juga, karena panas dan tekanan sebagian dari material akan meleleh melalui kerak benua, menyebabkan aktivitas vulkanik dan kerak benua baru terbentuk (Gross,1990; Bott and Kusznir, 1984)

Perkembangan Teori Plate Tektonik
1. Continental Drift
Yang pertama-tama mengemukakan bahwa bumi ini pernah bersatu adalah seorang ahli klimatologi dan geofisika yang bernama Alfred Wegener selama tahun 1912-1930 (www.en.wikipedia.org) dengan teorinya tentang Pengapungan Kontinen. Akan tetapi ide atau teori ini ditolak oleh sebagian besar ahli ilmu bumi. Tetapi, selama periode tahun 1950-an sampai 1960-an banyak bukti-bukti yang ditemukan oleh para peneliti yang mendukung teori tersebut, sehingga teori yang sudah pernah ditinggalkan ini menjadi pembicaraan lagi atau mulai diperhatikan lagi. Sampai tahun 1968, dengan perkembangan teknologi banyak dilakukan pemetaan pada lantai samudera, serta ditemukannya data-data yang banyak tentang aktivitas seismik dan medan magnit bumi. Sehingga muncul teori baru yang dinamakan Teori Tektonik Lempeng (Kennet, 1982; Duxbury et.al, 1991)
Benua pertama yang ada bernama Pangea pertama kali terpecah 300 tahun yang lalu, setengah di bagian utara yang disebut Laurasis (Eropa dan Asia) dan setengah lagi di selatan yang disebut Gownwanaland (Amerika Selatan, Afrika, India, Antartika, Australia dan New Zealand). Dari gambar di bawah terlihat benua yang saling menyebar, kurva merah menunjukan bidang benturan , sedangkan garis biru merupakan sebaran dasar lautan. Lokasi terjadinya tabrakan benua membentuk deretan pegunungan seperti Ereopa yang bertabrakan dengan afrika membentuk Pyrenees dan pegunungan Alpen, pegunungan Himalaya terjadi ketika India dan Asia (Duxbury et.al, 1991)
Ahli geologi Robert Dietz dan John Holden memberikan penjabaran tentang perihal Pangea (berarti benua secara keseluruhan) sebelum dan sesudahnya. Mereka berpendapat bahwa sebelum Pangea terbentuk, massa-massa benua mungkin telah mengalami berbagai episode fragmentasi yang sama dengan yang telah kita ketahui sekarang. Kontinen-kontinen purba tersebut dulu telah bergerak saling menjauhi satu dengan yang lainnya. Selama periode antara 500 – 225 juta tahun yang lalu, fragmen-fragmen yang sebelumnya telah menyebar, mulai bersatu membentuk Pangea. Bukti dari adanya tumbukan awal ini meliputi Pegunungan Ural di Uni Soviet dan Pegunungan Appalacian di Amerika Utara.
Hal ini didasarkan dengan mencoba mengekstrapolasikan kembali pergerakan lempeng, yang dihubungkan dengan perjalanan waktu, dan dibantu oleh data-data seperti orientasi struktur volkanik, distrubusi dan pergerakan transform, serta paleomagnetism, Dietz dan Holden telah mampu untuk merekonstruksi Pangea. Dengan menggunakan data penanggalan radiometri, kedua ahli ini juga dapat menentukan kapan Pangea ini mulai terbentuk dan kapan mulai terpecah. Kemudian berdasarkan data-data posisi relatif dari hot spot, maka juga dapat menentukan lokasi yang tepat dari setiap kontinen, (Duxbury et.al,).
Sedangkan Menurut Alfred Wegener (1912) dalam Thurmann (1990) mengatakan bahwa terdapat dua kontinen yang membentuk Pangea (dimana Pangea ini dikelilingi oleh satu samudera yang luas yakni Panthalassa) yakni Laurasia untuk bagian utara (sekarang ini merupakan bagian daratan Amerika Utara, Eropa dan Asia) dan Gondwanaland untuk bagian selatan (sekarang ini merupakan bagian daratan Amerika Selatan, Afrika dan India, Australia dan Antartika) yang dipisahkan oleh satu samudera yakni Laut Tethis (Tethys Sea).

Terpecah-pecahnya Pangea
Menurut teori Tektonik Lempeng, diperkirakan bahwa Pangea mulai terpecah sekitar 200 juta tahun yang lalu, dimana terjadi fragmentasi yang diikuti oleh jalur-jalur pergerakan dari setiap kontinen dan terdapat dua buah celah besar yang terjadi akibat fragmentasi ini. Celah antara Amerika Utara dan Afrika menyebabkan munculnya batuan basal yang berumur Trias secara besar-besaran di sepanjang Pantai Timur Amerika Serikat. Penanggalan radiometri pada basal ini menunjukkan bahwa celah tersebut terbentuk antara 200 –165 juta tahun yang lalu. Waktu ini sekaligus digunakan sebagai waktu terbentuknya Atlantik Utara. Celah yang terbentuk di bagian selatan Gondwanaland berbentuk hurup Y, yang menyebabkan termigrasinya Lempeng India ke bagian Utara dan sekaligus memisahkan Amerika Selatan – Afrika dari Australia – Antartika.
Sekitar 135 juta tahun yang lalu, posisi kontinen Afrika dan Amerika Selatan mulai memisah dari Atlantik Selatan. Pada saat ini India sudah berada separuh jalan menuju ke Asia, dan bagian selatan dari Atlantik Utara telah mulai melebar. Pada Kapur Akhir, sekitar 65 juta tahun yang lalu, Madagaskar telah terpisah dari Afrika, dan Atlantik Selatan berubah menjadi laut terbuka.
Sekitar 45 juta tahun yang lalu, India telah bersatu dengan Asia, yang kemudian menyebabkan terbentuknya pegunungan tertinggi di dunia, yakni Himalaya yang tersebar di sepanjang Dataran Tinggi Tibet. Kemudian terjadi pemisahan Greendland dari Eurasia, dan bersamaan juga terjadi pembentukan Semenanjung Baja dan Teluk Kalifornia. Peristiwa tersebut ditaksir terjadi kurang dari 10 juta tahun yang lalu, (Thurmann,1990; Duxbury et.al, 1991).
Sebuah penjelasan sederhana bagaimana mekanisme tersebut terjadi adalah, secara umum crust/kerak terbentuk dari arus konveksi yang berasal dari perbedaan temperatur antar titik di lapisan batuan cair. Bagian bumi yang dingin dibagian dalam tertembus bagian yang panas, Titik panas yang muncul dibawah lapisan continental akan memanaskan bagian atasnya yang lebih dingin sehingga bagian tersebut akan retak dan menyebabkan adanya aliran batuan panas yang juga akan mendorong kearah yang berlawanan (Taylor & McLennan, 1996).

Bukti Teori Hanyutan Benua
Bukti-bukti untuk mendukung hal tersebut seperti kesesuian kontinen, kesamaan fosil, kesamaan tipe dan struktur batuan, dan bukti paleoklimatik
a. Kesesuaian Kontinen
Bukti yang paling kuat adalah kesamaan antara kontinen Amerika Selatan dan Afrika. Sebagaimana telah dijelaskan tentang terpecah-pecahnya Pangea di atas, bahwa sebelumnya benua Afrika dan Amerika Selatan merupakan satu daratan yang bergabung pada mid-Atlantic oceanic ridge. Ketika lapisan kerak bumi pada ridge baru terbentuk, daratan ini didesak secara perlahan-lahan, dan terpisah satu sama lain. Rata-rata kecepatan gerakan memisah ke arah timur dan barat, terbukti seimbang, oleh karena itu ridge ini sekarang terletak pada jarak yang sama dari kedua benua (Alfred Wegener, 1913-1930 dalam Kennet, 1982). Hal ini juga telah dibuktikan oleh Sir Edward Bullard dan kawan-kawannya pada tahun 1960-an. Bukti tersebut berupa peta yang digambar dengan menggunakan bantuan komputer, dimana datanya diambil dari kedalaman 900 meter di bawah muka air laut.
b. Bukti-Bukti Fosil
Bukti- bukti fosil ini telah ditemukan oleh Alfred Wegener (1913-1930) dan para ahli geologi lainnya seperti :
• Fosil tumbuhan "Glassopteria" yang ditemukan menyebar secara luas di benua-benua bagian Selatan, seperti Afrika, Australia dan Amerika Selatan. Fosil ini diperkirakan berumur Mesozoikum. Fosil tersebut kemudian ditemukan juga di benua Antartika.
• Fosil reptil "Mesosaurus" dan hewan amphibi yang ditemukan di Amerika Selatan bagian timur dan Afrika bagian Barat dan benua lainnya yang diperkirakan hidup pada Periode Triassic (kira-kira 200 juta tahun yang lalu) dan Kapur Akhir ( kira-kira 75 juta tahun yang lalu).
• Ditemukannya fosil karang (jenis brachiopods). Seperti terlihat pada gambar 4, ternyata banyak terdapat di daratan Eropa bagian timur, Amerika Utara, Asia, pegunungan Alpen dan Himalaya yang diperkirakan hidup sekitar 300 juta tahun. Ini menandakan bahwa daerah ini sebelumnya merupakan wilayah lautan, karena menurut ilmu koral (koralogi) bahwa karang hanya hidup pada daerah perairan dan di atas suhu 18o C atau hanya bisa berkembang pada daerah khatulitiwa, sedangkan kedua benua tersebut berada pada daerah subtropis (Rogers and Adams, 1966 dan Duxbury, et.at., 1991).
c. Kesamaan Tipe dan Struktur Batuan
Salah satu contoh kesamaan batuan yang ditemukan adalah pada daerah Busur Pegunungan Appalachian yang berarah timur laut dan memanjang sampai ke bagian timur Amerika Serikat, yang tiba-tiba menghilang di bagian pantai Newfoundland. Pegunungan yang mempunyai umur dan struktur yang sama dengan pegunungan di atas, ditemukan di Greendland dan Eropa Utara. Jika kedua benua tersebut (Amerika dan Eropa) disatukan kembali, maka pegunungan di atas juga akan bersatu menjadi satu rangkaian pegunungan.

d. Bukti Paleoklimatik
Dari hasil penelitiannya, Wegener menemukan bahwa pada Akhir Paleozoikum, sebagian besar daerah di belahan bumi bagian selatan telah ditutupi oleh lempengan-lempengan es yang tebal. Daerah-daerah tersebut adalah Afrika bagian Selatan, Amerika Selatan, India dan Australia. Wegener juga menemukan bukti bahwa pada saat yang sama (Paleozoikum Akhir), daerah-daerah sekitar 30o di dekat khatulistiwa yang beriklim tropis dan subtropis juga ditutupi oleh es.
Berdasarkan kenyataan-kenyataan tersebut, maka Wegener menyimpulkan bahwa dulunya secara keseluruhan daerah di bagian selatan bumi telah ditutupi oleh lapisan es. Kemudian secara perlahan-lahan sebagian massa benua di bagian tersebut bergerak ke arah utara, yaitu ke arah khatulistiwa. Hal ini terbukti karena adanya lapisan es yang ditemukan di daerah sekitar khatulistiwa tersebut. Wegener menyimpulkan hal ini, karena secara logis tidak mungkin terbentuk lapisan es yang luas dan tebal di daerah khatulistiwa, yang diketahui beriklim tropis dan subtropis.

2. Teori Floating Continent
Konsep umum dari teori ini adalah ada lapisan cangkang statik yang ada di bawah bumi. Pengamatan awal menunjukan bahwa ketika batuan granit yang merupakan penyusun benua, lantai lautan tersusun dari batuan basal yang lebih berat, sehingga diasumsikan bahwa lapisan batuan basal akan berada di bawah lapisan basal. Akan tetapi terdapat anomali Pegunungan Andes di Peru memiliki lapisan batuan yang lebih berat dan mengarah ke bawah. Konsep ini dibuktikan dengan studi gravitasi Himalaya untuk mendeteksi kepadatan lapisan. Tetapi teori ini belum dapat menjwab pertanyaan apakah lapisan tersebut melingkupi batuan basal atau terapung seperti Iceberg.

3. Teori Plate Tektonik
Penerbitan teori ilmiah geologis Amerika Harry hess yang menyatakan bahwa sebagai pengganti teori yang menyatakan bahwa benua bergerak melewati kerak samudera (continental drift), bahwa kerak samudera dan kerak benua bergerak bersama dalam satu unit yang sama. Penjelasan dari teori Hess adalah penemuan potngan pita magnetis yang simetris di sekitar punggung bukit samudera (mid oseanic ridge). Sejak saat itu para ilmuwan mulai berteori bahwa mid ocean ridge di tandai dengan zona yang lemah dimana lantai samudera terbelah menjadi dua bagian sepanjang ridge. Magma baru mudah keluar dari bagian yang lemah ini dan menciptakan oceanic crust yang baru. Proses ini kemudian dikenal dengan nama sea floor spreading. Hipotesis ini didukung dengan beberapa bukti :
a. Dekat dengan lereng ridge batuan lebih muda dan semakin tua pada daerah yang lebih jauh.
b. Batuan yang muda memiliki polaritas yang normal
c. Terjadi pergantian polaritas pada batuan yang berada di lereng crest yang menunjukan bahwa bayak perubahan medan magnit (Bott and Kusznir, 1984; Duxbury, et.at., 1991; Taylor & McLennan, 1996).

Pergerakan Lempeng
Pengertian yang baik bahwa pergerakan lempeng sangat berhubungan erat denga aktivita sgempa bumi . Kebanyak gerakan terjadi sepanjang zona yang sempit diantara lempeng , ada empat tipe pergerakan lempeng .
Divergent Boundaries
Divergent boundaries terjadi sepanjang pusat penyebaran dimana lempeng bergerak terpisah kearah yang berlawanan. Contoh terbaik dari tipe ini adalah Mid Atlantic Ridge, yang merupakan pegunungan bawah air yang meluas dari kutub utara ke ujung selatan Afrika yang melingkari bumi. Tingkat sebaran lempeng ini bergerak rata-rata adalah 25 cm/tahun. Konsekuensi gerakan ini dapat dilihat dengan mudah dengan adalah adanya gunung berapi Krafla di bagian timur laut islandia disini terjadi retakan tanah yang melebar dan selalu muncul retakan baru setiap beberapa bulan. Di Afrika proses penyebaran telah memisahkan Saudi Arabia dari benua Afrika, membentuk Laut Merah (Duxbury, et.at., 1991; Taylor & McLennan, 1996).
Convergence Boundaries
Ukuran bumi sudahtidak berubah sjak 600 juta tahun yang lalu, bentuk bumi yang tidak berubak mengindikasikan bahwa kerak yang terbentuk harus dihancurkan dalam jumlah yang sama dengan jumlah kerak baru yang terbentuk. Proses penghancuran terjadi sepanjang perbatasan lempeng dimana lempeng saling bergerak satu sama lainnya, kadang salah satu lempeng tenggelam di bawah yang lainnya. Lokasi dimana lempeng tenggelam terjadi disebut zona subduksi.
Tipe konvergensi yang sangat lambat disebut collision dimana tergantung jenis batuan lithosphere yang dilibatkan. Konvergensi dapat terjadi antara lempeng oseanik dan lempeng kontinental yang lebih besar, atau antara dua lempeng oseanik yang besar, atau antara dua lempeng kontinental yang besar (Duxbury, et.at., 1991; Taylor & McLennan, 1996).
• Konvergensi Oceanic Continental
Konvergensi ini akan membentuk trench (palung laut) sepanjang ribuan kilo meter dengan kedalaman 8 – 10 kilometer. Akhir pantai Amerika Selatan sepanjang Peru-Chile, Oceanic Nazca Plate mendorong kedalam dan tersubduksi ke bawah bagian continental di bagaian selatan , sehingga bagian benua akan terangkat dan menciptakan Pegunungan Andes. Gempa bumi kuat yang bersifat merusak dan pengangkatan yang cepat dari rangakaian pegunungan merupakan ciri umum pola konvergensi ini. Konvergensi ini juga banyak memicu aktivitas gunung berapi. Erupsi/letusan gunung berapi jelas berhubungan dengan subduksi. (Duxbury, et.at., 1991; Taylor & McLennan, 1996)
• Konvergensi Oceanic-oceanic
Ketika dua oceanic plate bertemu maka salah satu biasanya akan tersubduksi di bawah yang lain dn dalam prosesnya akan membentuh trench dan membentuk gunuung berapi. Contoh nyata dari peristiwa ini adalah terbentuknya marianas trench. Pembentukan gunung berapi yang terjadi selama berjuta tahun, hasil erupsinya akan tertimbun dai samudera dan lama kelamaan akan muncul kepermukaan sebagai daratan baru. Rangkaian pegunungan berapi yang muncul dari dasar lautan ini dikenal sebagai Island Arc. (Duxbury, et.at., 1991; Taylor & McLennan, 1996)
• Konvergensi Continental-continental
Pegunungan Himalaya merupakan contoh dramatis yang nyata terlihat dari plate tektonik. Ketia dua kontinen bertabarakan tidak terjadi subduksi karena batuan kontinent relatif ringan seperti tabrakan dua gunung es, lapisan pelindungnya akan bergerak kebawah, sebagai gantinya kerak akan mengangkat dan mendorong ke atas atau ke samping. Tubrukan india dengan asia 50 juta tahaun yang lalu menyebabkan lempeng eurasian menyilang keatas melewati indian plate. Setelah tubrukan konvergensi yang lambat terus berlangsung antara dua lempeng lebih dari berjuta tahun dan membentuk pegunungan himalaya dan tibet plateau. (Duxbury, et.at., 1991; Taylor & McLennan, 1996)
Transform Fault
Zona diantara dua lempeng yang sling meluncur secara horizontal disebut tansform fault, yang konsep aslinya dikemukakan oleh geologis Canada J. Tuzo Wilson yang mengusulkan bahwa patahan besar atau fracture zone menghubungkan dua pusat sebaran (divergent plate boundaries) atau sekurangnya trench (convergent plate boundaries). Kebanyakan transform fault ditemukan di dasar samudera, umumnya mengganti penyebaran lereng aktif, menghasilkan plate margin zig-zag dan biasanya dicirikan dengan gempa bumi dangkal . Bagaimanapun beberapa terjadi di daratan, sebagai contoh patahan San Andreas di California.

KECEPATAN PERGERAKAN LEMPENG
Pergerakan lempeng merupakan suatu gerakan yang secara relatif melambat, yang arahkan oleh arus-arus ikonveksi termal dan permulaan aktivitas berhubungan dengan geologi jauh di dalam mantel bumi .Teori dari tektonika lempeng menggantikan yang sebelumnya satu hanyutan benua, di mana itu ditentukan hanya benua-benua sendiri mengapung di atas permukaan bumi pada dasarnya terdapat delapan plat yang besar -Dari Afrika, Antarctic, Indo(eropa), Indian-Australian, Nazca, Amerika Utara, Pacific dan Selatan Amerika; dan berbagai beberapa yang lebih kecil -Anatoliah, Arab, Caribbean, Cocos, Pilipina, Somali, dan Juan de Fuca. Kebanyakan dari riset menhidupkan teori-teori dan bukan data bersifat percobaan pengukuran-pengukuran yang diperoleh adalah rerata-rerata atau penilaian-penilaian. Mayoritas riset menunjukkan bahwa plat-plat berpindahkan rata-rata antara kira-kira 0,60 cm/yr sampai 10 cm/yr. Beberapa sumber menyatakan bahwa di dalam Lautan Atlantik yang Utara, tingkat pergerakan itu hanyalah sekitar 1 cm (sekitar 0,4 inchi) per tahun, sementara di Pasifik lebih dari 4 cm (hampir 2 inchi), secara umum, pergerakan berkisar dari 5 sampai 10 cm/yr. Bagaimanapun, percepatan-percepatan, dari plat-plat itu /terukur sebagai yang absolut atau gerak nisbi.

DAFTAR PUSTAKA

Usman, E., 2006. Eksplorasi Mineral di Daerah Oceanic Crust: Peluang dan Tantangan Lembaga Riset Kelautan Nasional, Jurnal Mineral & Energi vol. 4, no. 3, Balitbang Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta.

Rochmanto, Budi, M. Sc, Ir., 2008. Geologi Fisik. Makassar.